Mengapa Rasisme Sistemik Begitu Halus dan Berbahaya?

Mengapa Rasisme Sistemik Begitu Halus dan Berbahaya?

Stop rasisme-Pin/Karen Wheeler-

INFORADAR.ID- Saat mendengar kata "rasisme", bayangan kita cenderung langsung tertuju pada perbuatan nyata: ucapan kasar di muka umum, kekerasan fisik, atau pengucilan yang jelas.

Akan tetapi, bahaya terbesar bagi persatuan negara kita kerap hadir dengan cara yang tak terlihat.

Ia terselip dalam candaan saat berkumpul, bahkan bisa kita temui dalam aturan lembaga yang terlihat lazim.

Salah satu contoh yang paling nyata dan memprihatinkan dari rasisme ini terjadi pada awal Agustus 2019 di Surabaya dan Malang.

BACA JUGA:Ketika Selametan Berubah Makna, Tradisi Di Jawa Tengah Gaya Hidup Modern

BACA JUGA:Media Sosial Bisa Jadi Ruang Damai, Bukan Arena Konflik

Saat itu, tempat tinggal para pelajar asal Papua dikepung dan diserang dengan beragam hinaan bernuansa ras yang sangat melukai martabat manusia. 

Mengapa kejadian di tempat tinggal mahasiswa bisa membangkitkan kemarahan seantero pulau?

Akar masalahnya sungguh jelas: bagi warga Papua, hinaan itu bukan sekadar serangan terhadap segelintir orang, melainkan puncak dari beberapa pandangan negatif bersama yang telah mereka rasakan selama bertahun-tahun.

Labirin Stereotip: Warisan yang Gagal Dipertanyakan

BACA JUGA:Media Sosial Bisa Jadi Ruang Damai, Bukan Arena Konflik

BACA JUGA:Jari Lentik Berujung Konflik: Bahaya Clickbait pada Isu Agama di Era Digital

Jika kita bedah secara mendalam, rasisme sistemik tidak lahir dari ruang hampa. Akar masalahnya bermula dari jalinan stereotip keliru yang diwariskan dari generasi ke generasi tanpa pernah disaring.

Anggapan-anggapan miring bahwa kelompok etnis tertentu "lebih malas", "kurang pintar", "terlalu keras", atau "sulit diajak bekerja sama" sering kali langsung ditelan mentah-mentah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: