Mandeknya Demokrasi Kampus: Mendesak Pemira Ulang BEM UNMA Demi Marwah Mahasiswa
Pemira BEM UNMA --
PANDEGLANG INFORADAR.ID Pemilihan Raya (Pemira) Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM Universitas Mathla’ul Anwar yang dilaksanakan pada 27 Juni 2024 seharusnya menjadi momentum pendewasaan demokrasi mahasiswa.
Namun, kericuhan yang terjadi justru menyisakan persoalan serius: vakumnya kepemimpinan mahasiswa hingga hari ini tanpa kejelasan tindak lanjut Pemira ulang.
Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele. Demokrasi kampus bukan sekadar agenda seremonial, melainkan fondasi utama keberlangsungan gerakan mahasiswa.
Ketika Pemira terhenti tanpa solusi, maka yang terancam bukan hanya struktur BEM, tetapi marwah intelektual dan moral mahasiswa UNMA itu sendiri.
Mahasiswa UNMA harus berani bercermin. Kericuhan yang terjadi menunjukkan bahwa ego kelompok, fanatisme sempit, dan kepentingan sesaat masih lebih dominan dibandingkan nilai musyawarah dan kedewasaan berorganisasi.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka mahasiswa hanya akan menjadi penonton dari konflik internalnya sendiri.
Sudah saatnya seluruh mahasiswa UNMA membuka ruang diskusi yang sehat, setara, dan inklusif. Ruang yang memungkinkan pertukaran gagasan, melahirkan ide-ide inovatif, serta membangun kolaborasi lintas fakultas dan organisasi.
Gerakan mahasiswa tidak boleh homogen dan eksklusif, melainkan heterogen, progresif, dan solutif dalam mengawal persoalan kampus maupun masyarakat sekitar.
Pesan penting yang harus ditegaskan hari ini adalah:
bereskan internalmu, rapatkan barisan dengan ekstra.
Jangan lagi mementingkan kelompok tertentu, apalagi mengorbankan kepentingan kolektif mahasiswa. Kepemimpinan mahasiswa harus dibangun di atas kesadaran bersama, bukan ambisi segelintir pihak.
Oleh karena itu, Pemira BEM UNMA wajib segera diadakan kembali dengan mekanisme yang lebih transparan, aman, dan berkeadilan. Panitia, peserta, dan seluruh elemen mahasiswa harus memiliki komitmen yang sama untuk menjaga kondusivitas dan menjunjung tinggi nilai demokrasi.
Mahasiswa UNMA harus mampu bersinergi penuh karya guna berdampak nyata, tidak hanya bagi ORMAWA, tetapi juga bagi Universitas Mathla’ul Anwar dan Indonesia. Tanpa Pemira yang sah dan legitim, gerakan mahasiswa akan kehilangan arah, suara, dan daya tawarnya.
Demokrasi tidak boleh mandek.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
