Disway Award

Strategi Gen Z Hadapi Dunia Kerja, Cara Gen Z Perkuat Karier lewat Komunitas dan Freelance

Strategi Gen Z Hadapi Dunia Kerja, Cara Gen Z Perkuat Karier lewat Komunitas dan Freelance

Cerita lengkap perjuangan Lala dalam membangun personal branding dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja--

INFORADAR.ID - Fenomena mahasiswa yang menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan di luar jam kuliah kini semakin banyak ditemui. Bukan tanpa alasan, langkah ini diambil sebagai investasi jangka panjang untuk menghadapi ketatnya persaingan dunia kerja bagi para lulusan baru (fresh graduate). Salah satu contoh nyata semangat ini datang dari seorang mahasiswi program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) semester 6 di UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, Lala Nabilah Chandra.

‎Gadis yang akrab disapa Lala ini merupakan bukti nyata dari generasi Z yang enggan berdiam diri. Di usianya yang masih menempuh pendidikan, ia telah merambah berbagai bidang pekerjaan sampingan (freelance), aktif dalam organisasi, hingga bergabung dalam berbagai komunitas strategis.

 Baginya, masa kuliah adalah waktu yang paling tepat untuk bereksperimen dan membangun fondasi profesional sebelum benar-benar terjun ke dunia industri yang sesungguhnya.

‎Rekam jejak Lala dalam dunia profesional terbilang cukup beragam. Ia tercatat pernah menimba ilmu sebagai mahasiswa magang di Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskomsantik) Pandeglang. Di sana, ia mengasah kemampuan olah vokalnya dengan menjadi penyiar di Radio Berkah FM, sebuah stasiun radio milik pemerintah kabupaten Pandeglang. Pengalaman ini sejalan dengan hobi dan ketertarikannya pada dunia public speaking.

Tak berhenti di situ, Lala juga terlibat aktif dalam manajemen acara. Ia pernah dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai Sekretaris Produksi dalam gelaran event besar Festival Fakultas Dakwah UIN Banten. Kemampuannya dalam mengelola komunikasi pemasaran juga dibuktikan saat ia didapuk menjadi content marketing untuk Teras Bamboo, salah satu kafe populer di Kota Serang.

‎Pengalaman pekerjaan yang ia jalani saat ini, seperti di sebuah wedding organizer dan bidang marketing komunikasi, diakui Lala memberikan lingkungan yang sangat positif bagi perkembangannya. Selain itu, keterlibatannya dalam organisasi kemahasiswaan seperti Dewan Eksekutif Mahasiswa tingkat Universitas (DEMA-U), tingkat Fakultas (DEMA-F), hingga Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia (IMIKI) semakin memperkuat kemampuan manajerialnya.

‎Lala menyadari bahwa kesibukan yang luar biasa ini tentu menuntut pengorbanan, terutama waktu istirahat. Namun, ia memiliki prinsip yang kuat bahwa persiapan harus dimulai sedini mungkin agar tidak terkejut saat menjadi lulusan baru nantinya. 

"Ya pastinya waktu itu terambil ya, apalagi waktu istirahat. Tapi mau kapan lagi kalau kita enggak mulai dari sekarang? Karena kita kan masih mahasiswa juga ya, jadi harus mempersiapkan untuk fresh graduate nanti," ungkap Lala 

‎Menariknya, di tengah gempuran isu kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang ditakutkan akan menggantikan pekerjaan manusia, Lala justru melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Alih-alih merasa terancam, ia justru memanfaatkan alat-alat AI untuk membantu mempermudah pekerjaannya di bidang desain dan manajemen pemasaran digital.

‎"Sebenarnya aku enggak khawatir karena ada AI, karena aku pun memakai tools AI untuk pekerjaan aku. AI itu enggak akan bisa menggantikan pekerjaan manusia, mereka terbatas. Yang ada, mereka hanya membantu pekerjaan kita," tegasnya

Sebagai mahasiswa yang menargetkan posisi sebagai Public Relations di perusahaan besar dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, Lala sangat menjaga citra profesionalnya melalui media sosial. Baginya, LinkedIn dan platform sejenis adalah alat penting untuk membangun personal branding. Ia percaya bahwa apa yang ia tampilkan di media sosial adalah cerminan dari kapasitas dirinya di mata calon pemberi kerja.

Namun, ia juga memberikan catatan penting bagi rekan-rekan sebayanya mengenai mentalitas dalam bekerja. Lala mengamati banyak anak muda saat ini yang menginginkan hasil instan tanpa mau melalui proses yang panjang dan sulit.

‎"Kesalahan yang paling sering dilakukan anak muda itu sepertinya orang-orang yang enggak konsisten sama kerjaannya ya, jadi dia pengen kerjanya instan tapi enggak mau berusaha dulu gitu," tutur Lala

‎Dalam kesehariannya, Lala berusaha tetap seimbang dengan mengatur waktu antara bekerja dan beristirahat. Meskipun waktu luangnya tidak sebanyak teman-teman sebayanya, ia merasa kepuasan batin saat bisa produktif.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: