Disway Award

Kisah Maryam Marissa, Menolak Putus Sekolah hingga jadi CEO Sukses

Kisah Maryam Marissa, Menolak Putus Sekolah hingga jadi CEO Sukses

Prestasi Private Indonesia -Istimewa -

INFORADAR.ID - Di saat remaja seusianya sibuk memilih alat tulis baru atau sekadar bercanda di kantin, seorang gadis remaja duduk bersimpuh di tepi kolam ikan sekolahnya. Isaknya tertahan, namun air matanya jatuh menderu.

Di dalam kelas, kawan-kawannya sedang berjibaku dengan lembar ujian. Sementara ia? Ia "dibuang" sejenak oleh keadaan karena urusan administrasi yang belum mampu dilunasi.

Itulah sekelumit memori pahit Maryam Marissa, CEO sekaligus pendiri Prestasi Private Indonesia. Siapa sangka, gadis yang dulu dianggap "bermasalah" secara ekonomi itu, kini berdiri tegak sebagai peraih penghargaan The Best Champions Education Preneur se-Provinsi Banten tahun 2025.

Namun, jalan menuju podium kehormatan itu tidak pernah bertabur bunga; ia penuh kerikil, luka, dan air mata.

Lahir sebagai anak sulung dari keluarga yang sangat sederhana di Sindang Heula, Kabupaten Serang, Maryam tidak memiliki kemewahan untuk menjadi manja. Status "anak pertama" baginya bukan sekadar urutan lahir, melainkan beban tanggung jawab untuk menjadi pionir. Sejak kecil, ia telah memikul harapan besar keluarga di tengah keterbatasan ekonomi yang mencekik.

"Keadaan menuntut saya untuk menjadi tangguh dan perfeksionis," kenangnya. Di sekolah, ia adalah bintang; juara pidato tiga bahasa, kaligrafi, hingga dipercaya menjadi Ketua OSIS. Namun, di balik seragamnya yang rapi, ada kecemasan yang selalu menghantui setiap kali bel masuk berbunyi.

BACA JUGA:Kisah Inspiratif Santi Rahmawati, Duta Favorit Asuransi Syariah UIN Banten

BACA JUGA:Kontroversi Azkiave: Narasi Kuliah Scam, Nikah Muda, dan Komunitas Jeda Sekolah Picu Polemik

Titik nadir perjuangannya terjadi saat duduk di bangku SMA. Ibundanya, dengan berat hati, sempat memintanya berhenti sekolah karena biaya operasional yang sudah tidak ada.

"Saya diam, masuk kamar, dan menangis. Tapi dengan berani saya katakan pada Ibu: 'Saya ingin tetap sekolah, saya ingin punya kehidupan lebih baik,'" tutur Maryam.

Sejak hari itu, perjuangannya semakin nyata. Setiap hari, ia harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer menuju jalan raya demi menghemat ongkos. Di sakunya hanya ada uang dua ribu rupiah pas-pasan untuk ongkos angkot berangkat dan pulang.

Tak ada uang jajan, tak ada kemewahan. Ia hanya ditemani bekal makan dan minum dari rumah, sebuah kebiasaan yang ironisnya masih ia bawa hingga sukses saat ini sebagai pengingat masa sulitnya.

Lulus SMA bukan berarti beban terangkat. Maryam harus membiayai kuliahnya sendiri secara mandiri (kelas karyawan). Ia sempat mencicipi dunia retail dan admin keuangan, namun ia merasa panggilan jiwanya ada di dunia komunikasi.

BACA JUGA:Okupansi Capai 80 Persen, Hotel Horison TC-UPI Serang Sukses Gelar Gala Dinner Malam Tahun Baru 2026

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: