Disway Award

Makna Sungkeman di Lebaran, Antara Tradisi yang Bertahan dan Perubahan Zaman

Makna Sungkeman di Lebaran, Antara Tradisi yang Bertahan dan Perubahan Zaman

Momen sungkeman saat Lebaran bersama keluarga--

INFORADAR.ID - Menjelang Hari Raya Idulfitri, berbagai tradisi khas Lebaran kembali dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Salah satu yang masih bertahan hingga kini adalah sungkeman, sebuah tradisi meminta maaf kepada orang tua dan anggota keluarga yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan atas kesalahan

Sungkeman biasanya dilakukan dengan cara bersimpuh di hadapan orang tua sambil menyampaikan permohonan maaf secara langsung. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol permintaan maaf, tetapi juga mencerminkan nilai kesopanan, penghormatan, serta kedekatan emosional dalam keluarga

Di tengah perkembangan zaman, praktik sungkeman masih terus dilakukan, terutama saat momen kumpul keluarga di hari Lebaran. Namun, cara dan maknanya mulai mengalami perubahan, khususnya di kalangan generasi muda. Sebagian masih menjalankan tradisi ini dengan penuh kesadaran akan nilai yang terkandung di dalamnya, sementara sebagian lainnya melakukannya sebagai bagian dari kebiasaan yang sudah turun-temurun

Perubahan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pola komunikasi dalam keluarga hingga gaya hidup yang semakin modern. Interaksi yang kini banyak dilakukan secara digital membuat sebagian anak muda tidak lagi terbiasa menyampaikan perasaan secara langsung, termasuk dalam momen meminta maaf

Meski demikian, sungkeman tetap memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan keluarga. Tradisi ini menjadi ruang bagi setiap anggota keluarga untuk saling membuka hati, memperbaiki hubungan, serta mempererat ikatan yang mungkin sempat renggang

Di sisi lain, ada pula pandangan yang melihat sungkeman sebagai formalitas semata, terutama ketika dilakukan tanpa pemahaman mendalam terhadap maknanya. Dalam beberapa kasus, ungkapan maaf disampaikan secara singkat tanpa diiringi refleksi atau kesadaran atas kesalahan yang pernah terjadi

Namun demikian, banyak pula yang tetap memaknai sungkeman sebagai momen yang penuh makna. Bagi sebagian orang, tradisi ini menjadi kesempatan untuk benar-benar menyampaikan perasaan, mengungkapkan penyesalan, serta memperbaiki hubungan dengan orang tua dan keluarga

Seiring berjalannya waktu, sungkeman mengalami penyesuaian tanpa harus kehilangan esensinya. Tradisi ini tidak hanya dipertahankan sebagai bagian dari budaya, tetapi juga terus berkembang mengikuti dinamika kehidupan masyarakat

Lebaran pun tidak hanya menjadi perayaan kemenangan setelah menjalani ibadah puasa, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antarsesama. Dalam konteks ini, sungkeman tetap memiliki tempat penting sebagai simbol kerendahan hati dan keinginan untuk memperbaiki diri

Dengan berbagai perubahan yang terjadi, tradisi sungkeman tetap relevan selama makna yang terkandung di dalamnya terus dijaga. Lebih dari sekadar kebiasaan, sungkeman menjadi pengingat akan pentingnya menghargai, memaafkan, dan menjaga hubungan dalam keluarga

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: