Meri Hoegeng: Keteladanan Sunyi di Balik Integritas Sang Polisi Jujur
Meri Hoegeng: Keteladanan Sunyi di Balik Integritas Sang Polisi Jujur--
INFORADAR.ID - Indonesia kembali kehilangan sosok penjaga nilai. Ibu Meriyati Hoegeng—yang akrab disapa Tante Meri—meninggal dunia pada usia 100 tahun.
Ia bukan sekadar istri seorang Kapolri, melainkan saksi hidup dan pelaku dari etos kejujuran yang jarang ditemukan dalam sejarah kekuasaan.
Di balik nama besar Jenderal Hoegeng Iman Santoso, berdiri seorang perempuan dengan prinsip yang sama tegaknya.
Kesederhanaan, kehati-hatian, dan keberanian menjaga marwah republik menjadi napas hidupnya—bahkan hingga usia seabad.
Dua bulan sebelum wafat, kisah Tante Meri kembali mengemuka lewat cerita Rocky Gerung.
Dalam pertemuan itu, ingatan Tante Meri masih jernih. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengenang keinginannya suatu waktu untuk pergi ke Belanda menemui ayah kandungnya. Keinginan yang tampak sederhana, namun sarat makna. Jenderal Hoegeng menolak rencana tersebut.
Bukan karena larangan keluarga, melainkan karena kekhawatiran etik. Ia takut perjalanan itu disalahartikan sebagai fasilitas jabatan, meskipun dibiayai dari uang pribadi Tante Meri—uang yang dikirim keluarganya dari Belanda.
Bagi Hoegeng, kecurigaan sekecil apa pun bisa meruntuhkan gagasan besar tentang kepolisian yang bersih.
Dan Tante Meri memahami itu. Ia memilih menahan rindu, demi menjaga integritas yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Di sanalah etos republikanisme bekerja: ketika kekuasaan justru dijaga dengan pengorbanan, bukan dimanfaatkan dengan pembenaran.
Meriyati Hoegeng lahir pada 23 Juni 1925 dari pasangan Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe.
Ia hidup melintasi zaman kolonial, kemerdekaan, hingga republik modern—tanpa pernah meninggalkan nilai dasar tentang kejujuran dan martabat.
Kini, Tante Meri dimakamkan di sisi suaminya, Jenderal Hoegeng Iman Santoso, Kapolri periode 1968–1971, di TPBU (Tempat Pemakaman Bukan Umum) Giri Tama Tonjong, Bogor. Bersandinglah dua sosok yang menjadikan integritas bukan slogan, melainkan laku hidup.
Selamat jalan, Eyang Meri. Teladanmu mungkin sunyi, tetapi jejaknya panjang dalam ingatan bangsa.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
