Disway Award

Demi Papua, Musisi Pilih Mundur dari Pestapora! Ini Dampak Parah Tambang Freeport

Demi Papua, Musisi Pilih Mundur dari Pestapora! Ini Dampak Parah Tambang Freeport

Tambang emas Timika Papua terkuras habis oleh Freeport-Tangkap layar YouTube/ Adrasa ID-

INFORADAR.ID - Keterlibatan PT Freeport dalam acara festival musik terbesar di Indonesia, Pestapora telah mengecewakan banyak musisi dan penggemarnya.

Keterlambatan pengumuman PT Freeport sebagai sponsor dalam diumumkan setelah hari pertama Pestapora 2025 berlangsung. Sehingga banyak musisi yang mundur sebagai guest star.

Aktivitas tambang PT Freeport Indonesia di Mimika, Papua sejak lama memberi dampak besar terhadap lingkungan.

Maka dari itu sebanyak belasan musisi mulai dari Feast, Hindia, Sukatani, Banda Neira, Petra Sihombing dan lainnya, memilih mundur saat mengetahui keberadaan Freeport sebagai sponsor Pestapora 2025.

Meski Pestapora telah mencabut kerjasama dan mengaku tidak ada afiliasi dengan PT Freeport,  para musisi menyatakan keputusannya sebagai bentuk protes dan konsistensi terhadap nilai-nilai yang mereka junjung.

Berikut ini adalah rangkuman kerusakan alam hutan Papua akibat aktivitas tambang PT Freeport Indonesia.

Kerusakan Hutan Papua oleh PT Freeport Indonesia

Dalam laporan resmi dari Bapan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyebutkan aktivitas PT Freeport di Mimiki, papua telah merugikan Rp185 triliun dalam periode 1988-2016.

Pembuangan limbah tambang (tailing) ke Sungai Ajkwa telah menutup lahan basah, mengubah jalur sungai, dan sebagian terbawa hingga ke muara serta pesisir Arafura.

Kementrian Lingkungan Hidup mencatat 23 kampung di area tambang mengalami krisis air bersih.

Bahkan masyarakat kehilangan sumber pangan tradisional seperti sagu dan nelayan ikut kesusahan menangkap ikan akibat perncemaran, hingga mengakibatkan kematian ikan massal tahun 2016 dan 2020 di hilir Ajkwa.

Perjuangan Hak Masyarakat Adat Tak Digubris Pemda

Melalui VOAIndonesia.com, Adolfina Kuum, Koordinator umum Komunitas Peduli Lingkungan Hidup (Lepemawi) Timika, telah mmeperjuangkan hak masyarakat adat sejak 2013 tidak menemukan solusi mengatasi masalah itu.

Ia menambahkan Freeport juga tidak bersedia membangun jembatan di atas sungai limbah tailing untuk aktivitas warga.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: