INFORADAR.ID – Dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem memunculkan kembali jejak peradaban yang sempat tenggelam di Banten. Mengutip laporan CNN Indonesia, fenomena kekeringan panjang akibat El Niño menyebabkan elevasi air di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, menyusut drastis.
Penyusutan air waduk tersebut menyingkap deretan reruntuhan rumah di Kampung Somang, kawasan permukiman yang telah ditinggalkan warga sejak 2023 dalam rangka penenggelaman waduk. Selain Kampung Somang, area lain seperti Kampung Karian, Kampung Susukan, dan Kampung Cibolang juga mengalami kondisi serupa.
Di tengah bentangan dinding rumah tanpa atap, berdiri satu bangunan yang masih utuh yakni Masjid Al Mujahidin beratap kubah biru dan berstruktur menara lengkap. Tempat ibadah ini diyakini memiliki nilai sejarah panjang yang berdiri sejak era kolonialisme Belanda.
"Yang mendirikan Abuya, katanya dibangun sejak zaman Belanda. Tapi baru direnovasi sekitar 15 tahun lalu," kata Maman, warga yang dulu tinggal di samping Masjid Al Mujahidin.
Sebelum air menyusut, kawasan Kampung Somang juga sempat dijadikan lokasi syuting film horor berjudul Jembatan Shiratal Mustaqim pada kurun akhir 2024 hingga awal 2025 dengan mengikutsertakan warga lokal sebagai figuran dan tim teknis.
Sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) senilai dua triliun dua ratus miliar rupiah yang diresmikan pada Januari 2024, Bendungan Karian berkapasitas 315 juta meter kubik ini berfungsi menyokong pasokan air bagi wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
Fenomena menyembulnya kembali Kampung Somang menegaskan dampak nyata perubahan iklim global terhadap fluktuasi ketersediaan air pada bendungan berskala raksasa.
Surutnya debit air tidak hanya menjadi penanda intensitas kekeringan musiman, tetapi juga membuka ruang ingatan kolektif masyarakat lokal akan jejak sejarah permukiman yang dikorbankan demi pembangunan infrastruktur nasional.
Di samping nilai historisnya, daya tarik Masjid Al Mujahidin yang tetap berdiri kokoh menunjukkan kualitas arsitektur cagar budaya lokal yang mampu bertahan dari dampak perendaman air waduk. Keberadaan situs ini menjadi magnet perhatian publik sekaligus sarana edukasi mengenai dinamika fungsi sosial-ekonomi kawasan Waduk Karian.
Pengelolaan pasokan air dari Bendungan Karian membutuhkan strategi adaptasi yang presisi guna mengantisipasi ancaman kekeringan berkepanjangan di masa depan. Sinergi antara pemerintah daerah, badan pengelola sumber daya air, serta masyarakat amat penting untuk menjaga fungsi penyediaan air bersih dan irigasi wilayah Banten hingga Jakarta tetap optimal.