Makan Kol Goreng Bisa Picu Kanker? Begini Kata Menkes

Jumat 23-10-2026,13:22 WIB
Reporter : Billgheza Alshakira Bunga
Editor : Haidaroh

INFORADAR.ID – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyoroti kebiasaan pola makan masyarakat yang berpotensi memicu masalah kesehatan jangka panjang. Mengutip laporan iNews.id, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat untuk mengurangi konsumsi olahan sayur kol goreng yang kerap menjadi pelengkap hidangan penyetan.

Melalui pesan edukasi yang diunggah pada akun Instagram resminya, Menkes Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kebiasaan mengonsumsi kol goreng secara rutin setiap hari dapat mempercepat risiko terkena penyakit kanker.

"Makan kol goreng seperti ini setiap hari, gua jamin elo akan bisa kena kanker lebih cepat. Tapi kan makan penyetan enggak pakai kol goreng kurang afdol enggak sih? Pantes aja elo masih muda tapi kolesterol lu udah selangit," kata Budi.

Proses penggorengan dengan suhu tinggi, terlebih jika menggunakan minyak goreng yang telah dipakai berulang kali (minyak jelantah), dijelaskan dapat merusak kandungan gizi alami pada sayuran. Selain meningkatkan kadar lemak jenuh, proses tersebut juga memicu pembentukan senyawa karsinogenik yang berbahaya bagi tubuh.

Menkes membandingkan bahwa kol dalam kondisi mentah atau segar sebenarnya merupakan sumber bahan makanan yang sangat sehat, kaya nutrisi, serta ramah kantong. Dalam 100 gram porsi kol segar, kandungan kalorinya tercatat sangat rendah yaitu hanya sekitar 24 kalori.

Edukasi kesehatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat perkotaan, khususnya kelompok usia muda, untuk lebih bijak dalam memilih metode pengolahan makanan harian demi mencegah ancaman penyakit tidak menular sejak dini.

Peringatan mengenai bahaya kol goreng menggarisbawahi pentingnya edukasi gizi seimbang di tengah maraknya tren kuliner lokal bersuhu tinggi (deep frying). Perubahan struktur minyak sayur akibat pemanasan berulang tidak hanya meningkatkan akumulasi lemak jahat (LDL), tetapi juga merusak vitamin dan antioksidan alami yang dibutuhkan oleh sistem kekebalan tubuh.

Di samping edukasi perorangan, peran pemerintah dalam mengampanyekan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) menjadi krusial untuk menekan angka penderita kolesterol tinggi dan penyakit degeneratif di Indonesia. Pembiasaan mengolah makanan dengan cara dikukus, direbus, atau dikonsumsi segar merupakan langkah preventif dasar dalam membangun kualitas kesehatan publik yang berkelanjutan.

Kategori :