INFORADAR.ID - Perkembangan kecerdasan buatan terus menghadirkan inovasi baru lewat agentic AI, yaitu system AI yang mampu menjalankan serangkaian tugas berdasarkan yang diberikan.
Teknologi ini mebuat terbukanya peluang baru otomatisasi, tetapi diiringi dengan tantangan baru dalam keamanan digital yang mengkhawatirkan.
Berbeda dengan sistem AI yang hanya memberikan jawaban atas pertanyaan, agentic AI dapat dirancang untuk merencanakan tahapan pekerjaan, menggunakan perangkat digital, dan mengevaluasi hasil untuk melanjutkan proses berikutnya.
Dalam sektor bisnis, teknologi tersebut berpotensi membantu pengolahan dokumen, pengelolaan layanan pelanggan, analisis data, serta pengembangan perangkat lunak. Otomatisasi dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi apabila diterapkan dengan pengawasan yang memadai.
Namun, kemampuan menjalankan tugas secara mandiri juga menimbulkan risiko. Sistem yang memiliki akses terlalu luas atau menerima instruksi berbahaya berpotensi melakukan tindakan yang tidak diinginkan, termasuk mengakses data yang tidak semestinya.
BACA JUGA:Persikota Tangerang Gaspol Jelang Liga Nusantara 2026/2027, Persiba Bantul Ditekuk 4-2
BACA JUGA:Prabowo Setujui Bantuan Asing untuk Atasi Karhutla, BNPB Siapkan Mekanisme Penerimaan
Kementerian Komunikasi dan Digital sebelumnya menyoroti kemungkinan pemanfaatan agentic AI dalam serangan siber. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa AI dapat digunakan untuk memperkuat pertahanan sekaligus meningkatkan kemampuan pihak yang melakukan serangan digital.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, organisasi perlu menerapkan pembatasan akses, pengawasan manusia, pencatatan aktivitas, serta pengujian keamanan sebelum sistem digunakan secara luas.
Di Indonesia, pemanfaatan agentic AI juga perlu didukung peningkatan kompetensi tenaga kerja. Dengan tata kelola yang tepat, teknologi ini dapat membantu produktivitas tanpa mengabaikan keamanan informasi dan tanggung jawab penggunaannya.