INFORADAR.ID- Dunia konservasi global kembali berduka dan mencatat sejarah kelam setelah status salah satu mamalia darat terbesar di bumi, badak putih utara ( Ceratotherium simum cottoni), resmi dinyatakan punah secara fungsional.
Pilu! Badak Putih Utara Resmi Punah Secara Fungsional di Dunia
Kamis 24-09-2026,15:30 WIB
Editor : Haidaroh
Tragedi kepunahan ini mencapai puncaknya setelah kematian badak putih utara jantan terakhir yang diberi nama Sudan. Meskipun sempat dijaga ketat selama 24 jam oleh tentara bersenjata di Ol Pejeta Conservancy, Kenya, usia senja dan berbagai komplikasi membuat Sudan akhirnya mati. Kepunahan ini semakin nyata karena saat ini yang tersisa di dunia hanya tinggal dua ekor betina saja, yakni Najin dan Fatu, yang keduanya sudah tidak lagi mampu melahirkan secara alami akibat faktor usia dan masalah kesehatan rahim. Praktis, kepunahan spesies ini tidak dapat dihindari lagi secara biologis di alam bebas. BACA JUGA:Timnas 3x3 U17 Kawin Gelar Juara Asia Tenggara, Pemain Didominasi Jebolan DBL! BACA JUGA:Kopi Bubuk Badak: Cita Rasa Lokal Menes dari Tanah Pandeglang
Faktor utama dibalik kepunahan massal ini adalah perburuan liar yang sangat masif serta kejam. Selama beberapa dekade, cula badak putih diincar oleh sindikat kejahatan internasional untuk diperdagangkan secara ilegal demi kebutuhan pasar gelap pengobatan tradisional. Ditambah dengan konflik bersenjata yang berkepanjangan di habitat asli mereka seperti Republik Demokratik Kongo, Sudan Selatan, dan Uganda, ruang gerak mamalia purba ini tergerus drastis hingga kehilangan seluruh populasi liarnya sejak awal tahun 2000-an.
Kendati demikian, di tengah keputusasaan tersebut, secercah harapan besar kini disandarkan pada dunia sains modern. Sebuah konsorsium ilmiah internasional bernama BioRescue yang didukung oleh para ahli dari berbagai belahan dunia berpacu dengan waktu menjalankan misi penyelamatan yang hampir mustahil.Menggunakan teknik reproduksi berbantuan tingkat tinggi ( assisted reproduction technologies), para ilmuwan berhasil mengambil sel telur dari dua betina terakhir dan membuahinya menggunakan sperma beku dari badak jantan yang telah lama mati. BACA JUGA:Raffi Ahmad Jadi Saksi Pernikahan Adik Olga Syahputra, Momen Penuh Haru BACA JUGA:APBN Kuartal III 2026 Tak Cuma Kejar Angka Ekonomi, Kemenkeu Soroti Daya Beli dan Lapangan Kerja
Hingga saat ini, puluhan embrio hasil fertilisasi in-vitro (IVF) telah berhasil diciptakan dan disimpan secara aman di dalam tabung nitrogen cair di laboratorium khusus di Jerman dan Italia. Tantangan selanjutnya yang jauh lebih berat adalah proses transplantasi embrio tersebut ke dalam rahim badak putih selatan yang bertindak sebagai ibu pengganti ( surrogate mother). Proyek ambisius ini bahkan diperluas dengan menggandeng perusahaan bioteknologi modern untuk menyelamatkan keragaman genetik melalui sampel jaringan museum yang telah dikumpulkan sejak satu abad lalu.
Meski menuai perdebatan etis terkait biaya yang sangat fantastis dan kerumitan prosedurnya, upaya penyelamatan ini dinilai sebagai benteng pertahanan terakhir umat manusia. Jika proyek transfer embrio ini berhasil dalam beberapa tahun ke depan, badak putih utara berpotensi mencatat sejarah sebagai spesies pertama yang 'dihidupkan kembali' dari ambang kepunahan total, sekaligus menjadi pengingat pahit agar kita lebih bijak memperlakukan alam.
Kategori :