INFORADAR.ID - Perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menjadi perhatian pada Minggu, 6 September 2026. Aktivitas erupsi gunung api tersebut terus dipantau oleh pihak berwenang untuk mengantisipasi potensi dampak terhadap masyarakat dan wilayah di sekitarnya.
Berdasarkan informasi terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pemantauan terhadap dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dilakukan secara intensif selama 24 jam. Pemantauan mencakup kondisi atmosfer, sebaran abu vulkanik, hingga kondisi perairan di sekitar Selat Sunda.
Sementara itu, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Status gunung tersebut tetap berada pada Level III atau Siaga.
Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi
Pada Minggu pagi, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi. Salah satu erupsi tercatat terjadi sekitar pukul 07.10 WIB. Aktivitas tersebut menambah catatan erupsi Gunung Anak Krakatau yang terus dipantau oleh petugas.
Sebelumnya, aktivitas erupsi menerus juga sempat terjadi selama lebih dari 25 jam. Dalam periode tersebut, kolom abu vulkanik dilaporkan sempat mencapai ketinggian yang cukup signifikan.
Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Dengan masih berlangsungnya aktivitas vulkanik, masyarakat diimbau untuk tetap mengikuti informasi resmi dari PVMBG, Badan Geologi, BMKG, serta pemerintah daerah.
Masyarakat maupun wisatawan juga diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau sesuai dengan radius yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang. Informasi mengenai perubahan status maupun rekomendasi keselamatan perlu menjadi acuan utama dalam melakukan aktivitas di sekitar kawasan tersebut.
Selain aktivitas vulkanik, masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi cuaca dan perairan di sekitar Selat Sunda. Pemantauan terhadap kondisi atmosfer dan laut menjadi bagian penting dalam mengantisipasi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Waspadai Abu Vulkanik
Erupsi Gunung Anak Krakatau juga dapat menyebabkan penyebaran abu vulkanik yang terbawa angin ke wilayah tertentu. Karena itu, masyarakat yang terdampak abu dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel abu.
Jika kondisi udara mengalami penurunan akibat abu vulkanik, masyarakat dapat menutup pintu dan jendela rumah serta mengikuti imbauan dari pemerintah setempat.
Perkembangan Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau. Masyarakat diharapkan tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan dan selalu memperoleh informasi dari sumber resmi.