Banjir Bandang Terjang Nepal, PM Nepal Serukan Dunia Hadapi Ancaman Perubahan Iklim

Selasa 01-09-2026,21:25 WIB
Reporter : Ihksannudin
Editor : Haidaroh

INFORADAR.ID - Bencana banjir dahsyat yang melanda wilayah Himalaya, Nepal, menjadi peringatan keras terhadap meningkatnya risiko bencana akibat perubahan iklim. Perdana Menteri Nepal Balendra Shah meminta masyarakat internasional mengambil langkah lebih serius setelah bencana tersebut menewaskan ratusan orang dan menyebabkan ribuan lainnya masih hilang.

Banjir besar yang menerjang Sungai Bhote Koshi, wilayah Rasuwa, Nepal, dipicu runtuhnya gletser di kawasan perbatasan Nepal-China. Gelombang air bercampur material es dan puing menerjang kawasan di sekitarnya dengan kekuatan besar.

Sedikitnya 939 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara hampir 4.500 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Pemerintah Nepal juga memperkirakan biaya pembangunan kembali akibat bencana tersebut dapat mencapai miliaran dolar.

Perdana Menteri Balendra Shah mengatakan bencana tersebut bukanlah banjir biasa. Dalam pernyataannya pada Senin, 31 Agustus 2026 di akun sosial medianya, Shah menyebut peristiwa itu sebagai salah satu bencana besar yang terjadi di kawasan Himalaya.

Menurutnya, bencana tersebut berkaitan dengan longsoran salju dan es di kawasan pegunungan Himalaya. Meski penyebab pasti runtuhnya gletser masih belum sepenuhnya diketahui, perubahan iklim diketahui meningkatkan pencairan gletser di berbagai belahan dunia sehingga risiko bencana serupa semakin besar.

Shah menegaskan bahwa meningkatnya ancaman di kawasan Himalaya harus menjadi perhatian bersama.

"Risiko yang kita hadapi di kawasan Himalaya meningkat seiring dengan perubahan iklim," ujar Shah dalam pernyataannya.

Ia pun meminta Nepal lebih aktif menyuarakan persoalan tersebut kepada komunitas internasional. Menurut Shah, negara-negara di dunia perlu memberikan perhatian lebih terhadap bencana yang semakin mengancam kawasan Himalaya.

"Sudah waktunya bagi kami untuk dengan tegas mengangkat kepada komunitas internasional persoalan bencana yang kami alami akibat perubahan iklim," kata Shah.

Nepal sendiri merupakan negara dengan kontribusi relatif kecil terhadap emisi yang menyebabkan pemanasan global. Namun, negara berpenduduk sekitar 30 juta jiwa itu justru menghadapi dampak serius dari perubahan iklim, termasuk meningkatnya ancaman bencana di kawasan pegunungan.

Ancaman tersebut tidak hanya berdampak terhadap Nepal. Gletser di kawasan Himalaya dan Hindu Kush menjadi sumber air penting bagi sekitar 240 juta orang yang tinggal di wilayah pegunungan. Aliran sungainya juga menopang kehidupan sekitar 1,65 miliar penduduk di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Peringatan mengenai kondisi gletser Himalaya sebelumnya juga telah disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Saat berkunjung ke Nepal pada 2023, Guterres memperingatkan bahwa kawasan Himalaya menghadapi pencairan gletser yang berlangsung cepat.

Sementara itu, Kepala Iklim PBB Simon Stiell menyebut bencana tersebut menjadi pengingat yang sangat buruk mengenai rapuhnya lingkungan pegunungan terhadap perubahan iklim.

Di tengah besarnya kerusakan yang ditimbulkan, Nepal kini menghadapi tantangan berat untuk melakukan pemulihan. Keterbatasan sumber daya ekonomi membuat pemerintah harus menghadapi beban besar untuk menangani dampak bencana sekaligus membangun kembali infrastruktur yang rusak.

Bencana di Himalaya tersebut kembali menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar persoalan kenaikan suhu bumi. Dampaknya mulai terlihat dalam bentuk pencairan gletser, banjir ekstrem, serta ancaman terhadap kehidupan masyarakat yang tinggal di kawasan rentan.

Kategori :