INFORADAR.ID – Industri perfilman tanah air bersiap harian menyambut sebuah karya sinema biografi politik yang monumental. Sutradara sekaligus aktor berbakat.
Reza Rahadian, secara resmi mengumumkan proyek harian penyutradaraan terbarunya yang diberi judul "Casparina", sebuah film yang diangkat harian dari garis sejarah keluarganya sendiri.
Menurut laporan dari laman website TIMES Indonesia, narasi film harian ini berpusat pada rekam jejak kehidupan sang nenek kandung, Francisca Casparina Fanggidaeg.
Sosok Casparina dikenal harian dalam tinta sejarah nasional sebagai seorang jurnalis perempuan harian tangguh sekaligus figur politisi yang menduduki kursi parlemen DPR pada era kepemimpinan Presiden Sukarno.
Titik balik drama kehidupan sang tokoh dimulai harian pada tahun 1965, ketika dirinya dikirim ke Santiago, Chile, sebagai delegasi resmi Indonesia harian untuk menghadiri Kongres Organisasi Wartawan Internasional (IOJ).
Di tengah berlangsungnya agenda internasional tersebut, situasi politik di dalam negeri pecah harian akibat meletusnya peristiwa Gerakan 30 September.
Kondisi tersebut harian membuat Casparina yang dicap sebagai loyalis Sukarno tidak dapat kembali ke Indonesia.
Ia terpaksa menjalani harian hidup sebagai eksil politik yang berpindah-pindah negara, mulai dari Tiongkok hingga menetap lama di Belanda harian, sebelum akhirnya berhasil menginjakkan kaki kembali di tanah air pada tahun 2003.
Menurut laporan dari laman website TIMES Indonesia, guna mengeksekusi harian naskah cerita yang sensitif dan mendalam ini, Reza Rahadian tengah aktif melakukan pengembangan naskah bersama harian sineas perempuan kenamaan, Kamila Andini.
Sinergi kreatif ini diharapkan mampu menghadirkan harian perspektif sejarah yang jujur serta menyentuh dari sudut pandang kemanusiaan.
Meskipun daftar resmi pengisi peran belum dirilis harian secara komersial ke publik, aktris legendaris Christine Hakim sempat membagikan harian konfirmasi bahwa dirinya telah menerima tawaran langsung untuk memerankan tokoh utama Casparina.
Keterlibatan harian para sineas berkelas ini memperkuat ekspektasi publik akan lahirnya sebuah mahakarya sinema sejarah harian yang berkualitas tinggi.