Mereka adalah kelompok penyumbang pajak yang taat dan merupakan motor penggerak roda ekonomi nasional melalui konsumsi harian mereka.
Namun ironisnya mereka pulalah yang seringkali menjadi kelompok yang paling minim mendapatkan perlindungan atau jaring pengaman sosial dari pemerintah saat badai ekonomi melanda.
Tekanan struktural terhadap kelompok kelas menengah ini terasa menjadi semakin berat dan menyesakkan ketika kita memasukkan realita mengenai beban ganda yang harus mereka tanggung dalam fenomena sandwich generation.
Mayoritas pekerja yang berada di spektrum kelas menengah saat ini tidak hanya memiliki tanggung jawab finansial untuk membiayai kehidupan mereka sendiri beserta anak-anak mereka.
Tetapi juga memiliki kewajiban moral dan ekonomi untuk menopang kehidupan orang tua kandung, mertua, atau bahkan keluarga besar mereka yang sudah tidak lagi produktif.
Di tengah tumpukan beban hidup yang sudah setinggi gunung tersebut, mereka masih harus terus dihantam oleh rentetan kebijakan dan kondisi makro ekonomi yang terasa kurang bersahabat.
Mulai dari wacana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai, rencana pemotongan gaji untuk berbagai iuran wajib seperti perumahan dan pensiun, hingga semakin tidak terjangkaunya biaya pendidikan dan fasilitas kesehatan yang berkualitas tinggi.
Serangan pengeluaran finansial yang datang silih berganti dari berbagai arah ini seolah membangun sebuah tembok tebal tak kasat mata yang terus menekan kelas menengah ke bawah.
Membuat segala upaya keras mereka untuk menabung, membeli aset bernilai tinggi, atau merencanakan kebebasan finansial murni sekadar menjadi sebuah mimpi yang harus terus menerus ditunda batas waktunya.
Pada akhirnya, rentetan kenaikan harga yang dimulai dari bahan bakar hingga merambat ke harga sembako dan kebutuhan pokok lainnya.
Seolah mengonfirmasi perasaan frustrasi publik bahwa sistem ekonomi yang berjalan saat ini tidak benar-benar berpihak pada pertumbuhan dan mobilitas vertikal kelas menengah.
Mereka dipaksa oleh keadaan untuk terus berlari dengan susah payah di atas sebuah treadmill ekonomi yang kejam, mengeluarkan seluruh sisa tenaga dan keringat yang luar biasa besar setiap harinya hanya untuk bisa bertahan di titik yang sama tanpa pernah benar-benar bergerak maju mencapai garis akhir.
Tanpa adanya intervensi kebijakan fundamental yang secara khusus dirancang oleh para pembuat keputusan untuk melindungi daya beli mereka, seperti penciptaan lapangan kerja baru dengan standar upah yang lebih memanusiakan manusia, pengendalian laju inflasi harga pangan yang tepat sasaran.
Serta penyediaan fasilitas transportasi umum dan layanan publik yang benar-benar murah, aman, dan terintegrasi, maka kelas menengah akan terus dihantui oleh bayang-bayang kecemasan finansial seumur hidup mereka.
Takdir mereka yang seolah tertahan ini pada hakikatnya bukanlah sebuah kutukan nasib, melainkan hasil langsung dari desain struktural sistem ekonomi dan kebijakan negara.
Yang memang belum mampu memberikan ruang bernapas yang cukup luas bagi mereka untuk bisa benar-benar lepas landas menuju kesejahteraan yang stabil dan hakiki.