Mengkritisi Fenomena Romantisasi Kesehatan Mental dalam Konten Digital

Jumat 26-06-2026,18:17 WIB
Reporter : Lala Nabilah Chandra
Editor : Haidaroh

Bukan sekadar berdasarkan kesamaan perasaan yang dipicu oleh video berdurasi singkat.

Romantisasi ini juga sering kali menutupi sisi lain dari pemulihan yang tidak estetik, seperti kelelahan akibat terapi, efek samping pengobatan, atau proses panjang yang sering kali tidak menarik untuk ditampilkan di media sosial.

Penting untuk mengubah fokus dari mengejar estetika menuju kesadaran dan edukasi yang tulus. Upaya advokasi seharusnya mengedepankan kejujuran, tanggung jawab, dan empati, bukan mengubah penderitaan menjadi konten hiburan semata.

Dengan beralih dari konten yang bersifat performatif, platform digital dapat menjadi ruang yang benar-benar mendukung mereka yang membutuhkan.

Serta menumbuhkan pemahaman yang lebih baik alih-alih berkontribusi pada stigma atau romantisasi isu kesehatan mental.

Menggunakan platform digital untuk berbagi sumber daya, informasi yang akurat dari pakar, dan dukungan komunitas adalah cara yang jauh lebih beretika dan bermanfaat dibandingkan menciptakan narasi yang hanya mengejar nilai estetika namun kosong akan solusi dan keberpihakan pada penyintas.

Kategori :