INFORADAR.ID- Indonesia itu ibarat simfoni raksasa. Kita hidup bersama lebih dari 1.300 suku bangsa dengan ribuan dialek. Tapi di balik keindahan itu, ada bom waktu konflik horizontal yang siap meledak jika kita salah berkomunikasi.
Setiap kelompok punya kerangka referensi dan medan pengalaman yang berbeda. Ketika perbedaan ini bercampur dengan sikap menganggap budaya sendiri paling hebat, miskomunikasi kecil bisa cepat berubah menjadi badai pertikaian. Pernahkah Anda melihat konflik antarkelompok di berita? Pemicunya sering terkesan sepele, seperti senggolan motor atau salah paham di pasar. Tapi konflik komunal itu seperti gunung es. Yang terlihat di permukaan hanyalah pemantik kecil, sementara di dasar ada tumpukan trauma masa lalu, ketimpangan ekonomi, hingga stereotipe negatif yang diwariskan turun-temurun. BACA JUGA:Tidak Dikucilkan, Tapi Tetap Merasa Asing, Kenapa? BACA JUGA:Kalau Beda Budaya, Masih Bisa Nyambung Ngobrol Nggak Sih? Ini Jawabannya Ketika konflik pecah, membawa kasus ke jalur hukum formal sering kali hanya meredam amarah di permukaan. Hukum cenderung mencari siapa yang menang dan kalah. Padahal, dalam masyarakat kita, memaksa satu pihak mengaku kalah sama saja menginjak harga diri mereka. Pakar komunikasi Stella Ting-Toomey menyebut masyarakat Timur sangat menjaga citra diri atau wajah. Mempermalukan suatu kelompok di depan umum hanya akan menanam dendam yang kelak siap meledak lagi. Lalu apa solusinya? Jawabannya adalah pendekatan win-win solution melalui negosiasi kolaboratif yang digagas Roger Fisher dan William Ury. Kuncinya sederhana: kita harus bergeser dari tawar-menawar posisi yang kaku menuju pemenuhan kepentingan bersama. Sebagai contoh, Suku A yang bertani melarang keras Suku B lewat di perbukitan mereka. Suku B yang beternak ngotot punya hak warisan untuk lewat. Ini adalah posisi kaku. BACA JUGA:Misteri Jalur Tol Karier: Kenapa Orang yang (Kelihatannya) Gak Kompeten Malah Mulus Naik Jabatan? BACA JUGA:Misteri Jalur Tol Karier: Kenapa Orang yang (Kelihatannya) Gak Kompeten Malah Mulus Naik Jabatan? Jika mediator jeli menggali kepentingan di baliknya, terungkap bahwa Suku A hanya takut tanamannya rusak, dan Suku B hanya butuh akses agar ternaknya bisa minum di sungai. Solusinya, mereka sepakat membuat pagar pelindung dan menyisakan jalan dua meter untuk ternak. Tanaman aman, ternak tidak kehausan, dan tidak ada harga diri suku yang terinjak. Keduanya menang. Hebatnya, rumus modern ini sudah lama dihidupi nenek moyang kita lewat kearifan lokal. Di Banten, Suku Baduy punya filosofi luhur lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung yang bermakna kejujuran pada realitas dan menolak manipulasi. Saat ada gesekan, mereka tidak adu otot, melainkan memilih jalan Ngariung atau musyawarah santun yang dipimpin tetua adat. Praktik menjaga harmoni ini juga hidup di penjuru Nusantara, seperti Pela Gandong di Maluku atau tradisi Tepa Selira di Jawa. Pada akhirnya, kunci penyelesaian konflik yang permanen adalah empati kultural. Komunikasi bukan sekadar bertukar kata, tapi bertukar makna dan rasa. Ketika sebuah kelompok merasa suaranya benar-benar didengar dan dihormati oleh kelompok lain, rasa amarah itu akan padam dengan sendirinya. Terpecah belah adalah pilihan yang bisa kita hindari. Pendekatan menang-kalah sudah kuno dan gagal merawat kebhinekaan. Dengan memadukan komunikasi win-win solution dan ketulusan tradisi lokal seperti Ngariung, kita sedang merajut kembali persatuan agar Indonesia tetap berdiri utuh, damai, dan bermartabat. Penulis: Binar Putra Ramadhan Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanudin BantenSenggolan Dikit Gak Langsung Perang: Trik Jitu Selesaikan Konflik Pakai Win-Win Solution!
Sabtu 06-06-2026,20:45 WIB
Reporter : Lala Nabilah Chandra
Editor : Haidaroh
Kategori :
Terkait
Rabu 22-07-2026,17:42 WIB
Rahasia Produktivitas: Strategi Ampuh Membagi Waktu Antara Kuliah dan Karier Profesional
Jumat 26-06-2026,18:17 WIB
Mengkritisi Fenomena Romantisasi Kesehatan Mental dalam Konten Digital
Kamis 25-06-2026,12:33 WIB
Dikit-Dikit Berlindung di Balik Tameng Avoidant, Fenomena Self-Diagnosis Hubungan Remaja
Senin 08-06-2026,12:35 WIB
Saat Kolom Komentar Jadi Medan Perang: Kenapa Kita Sulit Berempati Soal Agama?
Senin 08-06-2026,07:13 WIB
Membedah Gaya Komunikasi Kontekstual: Mengapa Anak Muda Cepat Bosan dengan Model Pidato Searah
Terpopuler
Selasa 29-09-2026,17:44 WIB
Manchester City di Ambang Sanksi, Vonis 115 Pelanggaran Premier League Jadi Sorotan
Selasa 29-09-2026,11:50 WIB
Kirab Budaya dan Ruwat Bumi Ramaikan Tangerang, Puncak Acara Digelar Minggu
Selasa 29-09-2026,17:20 WIB
25 Tahun Berkarier, Ivan Gunawan Akhirnya Merasa Jadi Pemain Film Lewat
Selasa 29-09-2026,11:50 WIB
Amri/Nita Tembus Final Asian Games 2026, Indonesia Selangkah Lagi Raih Emas
Selasa 29-09-2026,10:31 WIB
Bukan Sekadar Koreografi, Mural ‘BELIEVE’ 2.625 Suporter Catat Rekor MURI di SUGBK
Terkini
Selasa 29-09-2026,17:44 WIB
Lisa BLACKPINK Raih Best Pop di MTV VMAs 2026, Cetak Sejarah sebagai Solois Asia
Selasa 29-09-2026,17:44 WIB
Manchester City di Ambang Sanksi, Vonis 115 Pelanggaran Premier League Jadi Sorotan
Selasa 29-09-2026,17:44 WIB
Gak Ada Matinya Rilis Trailer, Oki Rengga Hadapi Ayah yang Hidup Kembali
Selasa 29-09-2026,17:44 WIB
Hirotada Radifan Ungkap Cerita Horor Disertai Dokumen, Netizen Ikut Merinding
Selasa 29-09-2026,17:44 WIB