“Dia nggak asal respon. Dia dengerin dulu, mikir, baru ngomong. Jadi pas dia bicara, orang langsung nganggep itu penting,” tambahnya.
Hal tersebut membuat Zaudan mulai merefleksikan cara berkomunikasinya sendiri, terutama di lingkungan kampus dan pergaulan.
“Kadang kita pengen dianggap, jadi kebanyakan ngomong. Padahal bisa jadi justru sebaliknya, orang lebih respect kalau kita nggak banyak bicara tapi tepat,” katanya.
Thomas Shelby digambarkan sebagai pemimpin yang tidak haus pengakuan. Ia tidak perlu menjelaskan dirinya, tidak memamerkan kekuasaan, dan tidak sibuk membela ego. Diamnya sering kali lebih berbicara dibanding kata-kata orang lain.
Pengamat budaya pop menilai karakter ini merepresentasikan quiet confidence kepercayaan diri yang tidak butuh validasi eksternal.
Thomas Shelby tahu posisinya, tahu tujuannya, dan tidak merasa perlu membuktikan apa pun kepada semua orang.
Hal inilah yang membuatnya relevan bagi Gen Z, generasi yang hidup di era media sosial dengan tekanan untuk selalu terlihat, selalu bicara, dan selalu bereaksi.
Bagi sebagian penonton muda, Thomas Shelby bukan lagi sekadar karakter serial, melainkan simbol sikap hidup.
Bukan berarti meniru sisi gelap atau kriminalitasnya, tetapi mengambil esensi karismanya: tenang, terukur, dan berbicara seperlunya.
“Setelah aku pahami, Thomas Shelby itu ngajarin kalau power nggak selalu ditunjukin. Kadang justru yang paling kuat itu yang paling tenang,” tutup Zaudan.
Di dunia yang penuh kebisingan, Thomas Shelby menjadi pengingat bahwa karisma sejati tidak lahir dari banyaknya kata, melainkan dari makna di balik setiap ucapan.