INFORADAR.ID - Film Surga yang Tak Dirindukan hadir sebagai salah satu drama Indonesia yang paling emosional dan mengundang perdebatan.
Diadaptasi dari novel laris karya Asma Nadia, film ini berani mengangkat tema berat tentang poligami, kejujuran, pengorbanan, dan luka batin, yang dikemas melalui kisah rumah tangga yang tampak harmonis, namun menyimpan badai besar di dalamnya.
Diperankan oleh Fedi Nuril, Laudya Cynthia Bella, dan Raline Shah, film ini bercerita tentang Pras, seorang pria beristri yang hidup bahagia bersama Arini.
Kehidupan mereka berubah drastis ketika Pras menolong Meirose, seorang wanita hamil yang mengalami kecelakaan dan berada di ambang kematian.
Dalam kondisi genting, Pras mengambil keputusan besar: menikahi Meirose sebagai istri kedua, tanpa sepengetahuan Arini.
Keputusan tersebut menjadi awal dari konflik emosional yang mendalam. Arini, yang dikenal sebagai sosok istri salehah dan penuh pengabdian, harus menghadapi kenyataan pahit tentang cinta, keikhlasan, dan rasa dikhianati.
Di sisi lain, Meirose hadir sebagai perempuan yang terjebak dalam situasi hidup yang tak ia pilih, memunculkan dilema moral yang kompleks.
Film ini tak sekadar menampilkan kisah cinta segitiga, melainkan juga menggambarkan benturan nilai agama, nurani, dan perasaan manusia.
Sejumlah adegan emosional, dialog tajam, serta tema rumah tangga yang sensitif membuat film ini mengandung unsur kekerasan emosional dan kata-kata keras, sehingga penonton diajak masuk ke dalam konflik batin para tokohnya secara intens.
Disutradarai dengan pendekatan yang serius dan sinematografi yang mendukung nuansa sendu, Surga yang Tak Dirindukan berhasil menyentuh sisi terdalam penonton.
Film ini kerap memancing air mata sekaligus diskusi panjang tentang makna keadilan dalam cinta dan pernikahan.
Sebagai film adaptasi buku, Surga yang Tak Dirindukan bukan sekadar tontonan, melainkan cermin realitas sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Emosional, menyayat, dan penuh pesan moral—film ini meninggalkan pertanyaan besar:
apakah surga selalu dirindukan, jika jalannya penuh luka?