Dalam hal skincare-first atau makeup-second, Nadia cenderung memilih keseimbangan, namun tetap menekankan pentingnya skincare dasar yang konsisten. Ia menilai jerawat akibat stres tidak bisa terus-menerus disamarkan dengan makeup.
“Aku cenderung seimbang, tapi kalau harus pilih, aku pilih skincare dasar yang konsisten. Nggak harus mahal, yang penting cocok. Soalnya jerawat karena stres deadline itu nggak bisa ditutupin concealer terus-terusan. Makeup itu penolong darurat, tapi skincare itu perawatan jangka panjang biar kulit nggak makin rewel,” katanya.
Untuk menjaga kewarasan di tengah kesibukan, Nadia memiliki ritual sederhana berupa masker wash-off sambil menyusun outline tugas. Ia biasanya ditemani musik pelan atau podcast ringan agar pikirannya lebih tenang sebelum kembali begadang.
Soal isi tas ala Clean Girl, Nadia memilih produk minimal seperti lip tint, brow pencil, dan bedak compact kecil. Jika wajah terlihat sangat kusam, ia menambahkan sedikit highlighter cair di tulang pipi agar tampak lebih segar. Menurutnya, Clean Girl bukan soal banyak produk, melainkan kesan rapi dan terawat.
"Versiku cukup lip tint, brow pencil, dan bedak compact kecil. Kalau muka lagi kusam banget, aku pakai sedikit highlighter cair di tulang pipi biar kelihatan fresh. Buat aku, Clean Girl itu bukan soal banyak produk, tapi kelihatan rapi dan terawat," tuturnya.
Baik Intan maupun Nadia sepakat bahwa tren Clean Girl Aesthetic bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, tren ini kerap menghadirkan tekanan untuk selalu tampil “rapi effortless”. Namun di sisi lain, jika dimaknai secara personal, Clean Girl justru membantu meningkatkan rasa percaya diri.
Nadia pun menambahkan bahwa tidak semua hari harus mengikuti tren. “Kalau lagi capek, tampil biasa aja nggak apa-apa. Tapi di hari tertentu, Clean Girl bikin aku lebih pede masuk kelas atau presentasi,” tutupnya.