Pendidikan Kaum Tertindas: Ketika Sekolah Menjadi Alat Pembebasan

Kamis 05-02-2026,17:26 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

INFORADAR.ID - Di tengah ketimpangan sosial yang masih nyata—akses pendidikan yang tidak merata, kemiskinan struktural, hingga pembungkaman suara rakyat kecil—buku Pendidika Kaum Tertindas karya Paulo Freire terasa semakin relevan.

Buku ini bukan sekadar bacaan akademik, melainkan sebuah seruan perlawanan melalui pendidikan. Paulo Freire, seorang pendidik asal Brasil, menulis buku ini dari pengalaman hidup bersama kaum miskin, buruh, dan masyarakat yang termarjinalkan.

Ia melihat bahwa pendidikan sering kali tidak membebaskan, justru menjadi alat penindasan yang halus namun sistematis.

Pendidikan Gaya “Bank”: Murid Sebagai Objek

Freire mengkritik keras sistem pendidikan yang ia sebut sebagai pendidikan gaya bank. Dalam model ini, guru dianggap sebagai pemilik pengetahuan, sementara murid hanyalah “celengan kosong” yang harus diisi.

Murid dituntut patuh, diam, dan menerima apa pun yang diajarkan tanpa ruang bertanya atau berpikir kritis. Model pendidikan seperti ini, menurut Freire, sangat berbahaya. Ia melahirkan manusia-manusia yang pasrah pada keadaan, tidak sadar bahw mereka sedang ditindas, dan tidak memiliki keberanian untuk mengubah realitas hidupnya. Pendidikan semacam ini tidak mendidik, melainkan menjinakkan.

Pendidikan Pembebasan: Dialog dan Kesadaran Kritis

Sebagai tandingan, Freire menawarkan konsep pendidikan pembebasan. Dalam pendekatan ini, guru dan murid berada dalam posisi setara sebagai sesama subjek pembelajar.

Proses belajar terjadi melalui dialog, bukan doktrin. Pendidikan harus membantu peserta didik menyadari kondisi sosialnya—siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan mengapa ketidakadilan bisa terjadi.

Kesadaran inilah yang oleh Freire disebut sebagai kesadaran kritis (critical consciousness). Bagi Freire, tujuan utama pendidikan bukan sekadar mencetak lulusan, melainkan membentuk manusia yang sadar, berani berpikir, dan mampu bertindak untuk mengubah ketidakadilan.

Kaum Tertindas dan Perjuangan Merebut Kemanusiaan

Freire menegaskan bahwa penindasan tidak hanya merampas hak ekonomi, tetapi juga merusak kemanusiaan, baik pada pihak tertindas maupun penindas. Ironisny, kaum tertindas sering kali tanpa sadar menginternalisasi cara berpikir penindas dan justru bercita-cita menjadi penindas baru.

Karena itu, pembebasan sejati tidak bisa diberikan dari atas. Ia harus lahir dari kesadaran dan perjuangan kaum tertindas itu sendiri, dengan pendidikan sebagai alatnya—bukan sebagai alat propaganda, tetapi sebagai ruang refleksi dan dialog.

Relevansi di Indonesia Hari Ini

Dalam konteks Indonesia, gagasan Freire terasa dekat. Masih banyak anak yang terpaksa putus sekolah, pendidikan yang terlalu berorientasi pada nilai dan ijazah, serta ruang kelas yang minim diskusi kritis. Murid pintar diukur dari seberapa patuh, bukan seberapa peka terhadap realitas sosial.

Kategori :