INFORADAR.ID - Setiap tahun, negara memamerkan capaian pendidikan: angka partisipasi meningkat, gedung sekolah bertambah, kurikulum diperbarui. Namun di balik statistik yang tampak rapi, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: siapa yang benar-benar hadir dalam sistem pendidikan kita?
Di banyak sekolah, murid dudu lengkap di bangku kelas, tetapi tidak semuanya benar-benar “ada”. Ada yang datang dengan tubuh lelah karena harus bekerja membantu orang tua.
Ada yang pikirannya tertinggal di rumah sempit, konflik keluarga, atau kecemasan ekonomi. Ada pula yang pelan-pelan belajar untuk diam, karena berbicara sering kali berujung teguran, bukan pemahaman.
Pendidikan kita terlalu sibuk menuntut hasil, tetapi minim kesiapan memahami proses manusia di baliknya. Anak dinilai dari nilai rapor, peringkat, dan kelulusan, seolah semua memulai dari garis yang sama. Padahal, ketimpangan sosial membuat sebagian murid berlari tanpa sepatu, sementara yang lain sudah berada jauh di depan.
Sekolah juga kerap menjadi ruang yang kaku. Disiplin dimaknai sebagai kepatuhan mutlak, bukan sebagai kesepakatan yang adil. Murid yang “berbeda” dianggap bermasalah: terlalu pendiam, terlalu aktif, terlalu lambat memahami. Alih-alih bertanya mengapa, sistem lebih cepat memberi label dan hukuman.
Ironisnya, ketika anak-anak kehilangan semangat belajar, kesalahan sering diarahkan sepenuhnya kepada mereka: kurang motivasi, kurang usaha, kurang tangguh. Jarang sekali kita mengakui bahwa sistemlah yang gagal menyediaka ruang aman untuk tumbuh, bertanya, dan salah.
Pendidikan seharusnya bukan sekadar alat produksi sumber daya manusia, melainkan proses memanusiakan manusia. Jika sekolah hanya mengajarkan cara bertahan dalam tekanan, maka ia sedang melatih kepatuhan, bukan kecerdasan. Jika suara murid tak pernah didengar, maka ruang kelas berubah menjadi tempat monolog kekuasaan.
Indonesia tidak kekurangan anak cerdas. Yang kurang adalah keberanian sistem untuk melambat, mendengar, dan mengakui bahwa belajar bukan hanya soal capaian, tetapi juga soal rasa aman dan martabat.
Tanpa itu, sekolah akan tetap ramai—namun banyak murid perlahan menghilang, bukan secara fisik, melainkan sebagai manusia yang utuh.
Fikri Habib Hassar Maldya Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mathla’ul Anwar