INFORADAR.ID - Prilly Latuconsina itu paket lengkap: sukses, tajir melintir di usia muda, sampai bisa beli yacht miliaran buat kado sendiri.
Tapi, sehebat-hebatnya dia main film atau bangun bisnis, Prilly tetap manusia biasa yang bisa kepeleset. Kemarin, niatnya mungkin cuma mau seru-seruan atau bagian dari strategi marketing lewat fitur "Open to Work" di LinkedIn.
Sayangnya, langkah ini justru bikin banyak orang terutama para pejuang kerja beneran merasa tersinggung.
Media sosial pun langsung panas. Banyak yang merasa status itu cuma gimmick yang kurang empati, mengingat cari kerja di zaman sekarang susahnya minta ampun. Prilly yang biasanya banjir pujian, mendadak harus berhadapan dengan komentar pedas netizen sampai akun LinkedIn-nya sempat menghilang.
Di sini kita belajar kalau panggung hiburan dan dunia profesional punya sensitivitas yang beda jauh; apa yang dianggap "konten" di Instagram, bisa jadi "sentimen" negatif di LinkedIn.
Untungnya, Prilly tidak memilih untuk bungkam atau defensif berlebihan. Lewat permintaan maaf resminya, dia mencoba meluruskan keadaan dan mengakui kalau tindakannya itu memang kurang bijak.
Dukungan juga datang dari sang kekasih, Omara Esteghlal, yang pasang badan membela Prilly di masa sulit ini. Kejadian ini jadi pengingat penting: sepopuler apa pun seseorang, tetap harus hati-hati menempatkan diri di tengah realitas sosial yang lagi sensitif.
Tegar di Tengah Badai Kritik
Sekarang, Prilly mulai menata kembali citranya dan kembali fokus ke dunia akting, termasuk momen emosionalnya saat berpamitan dengan karakter "Risa" dari semesta Danur.
Meski sempat "jatuh" gara-gara satu postingan, dia membuktikan kalau cara terbaik menghadapi kesalahan adalah dengan mengakuinya, belajar, lalu lanjut melangkah. Badai pasti berlalu, tapi pelajaran soal empati ini sepertinya bakal membekas lama bagi Prilly.
Andrea Kesya Tindas Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mathla'ul Anwar Banten