Dalam mencari referensi fashion, Dzikra mengaku tidak memiliki kiblat khusus. “Biasanya aku cari referensi outfit dari TikTok atau Pinterest aja, nggak ada tokoh fashion yang spesifik,” jelasnya.
Sementara itu, Oktavia Romadon, mahasiswa UIN Banten, memiliki gaya berpakaian yang identik dengan cewek kue.
Ia kerap memadukan warna-warna cerah dan lembut dalam outfit sehari-harinya. Menurut Oktavia, penggunaan warna cerah dapat meningkatkan rasa percaya diri.
“Aku emang lebih suka outfit cewek kue, soalnya warna-warna cerah itu bikin mood lebih bagus dan kelihatan fresh,” kata Oktavia.
Oktavia juga menilai bahwa gaya berpakaian merupakan bentuk kebebasan berekspresi bagi anak muda.
Ia tidak ragu memadukan berbagai warna selama tetap nyaman digunakan untuk aktivitas sehari-hari.
Berbeda dengan Oktavia, Erlinda Putri, mahasiswa UIN Banten lainnya, memilih gaya casual dengan sentuhan cewek bumi.
Ia cenderung menggunakan warna-warna netral dan earthy tone seperti cokelat, hitam, dan krem.
“Kalau aku lebih nyaman pakai warna-warna netral. Simpel aja tapi tetap enak dilihat dan nggak ribet,” ujar Erlinda.
Menurut Erlinda, gaya cewek bumi lebih mencerminkan kepribadiannya yang sederhana dan tidak terlalu mencolok.
Ia juga menilai bahwa kenyamanan menjadi faktor utama dalam menentukan outfit, terutama untuk kegiatan kampus yang cukup padat.
Fenomena beragamnya gaya berpakaian ini menunjukkan bahwa bagi Generasi Z, fashion bukan sekadar mengikuti tren.
Fashion telah menjadi bagian dari identitas diri, di mana setiap individu bebas menentukan gaya sesuai karakter, selera, dan kenyamanan masing-masing.
Media sosial pun berperan besar sebagai sumber inspirasi yang memperkaya referensi fashion anak Gen Z saat ini.