INFORADAR.ID Film horor Indonesia terbaru ini menghidupkan kembali legenda Suzzanna melalui produksi Soraya Intercine Films, menjanjikan teror santet yang mencekam bercampur drama dendam dan cinta terlarang.
Suzzanna, perempuan desa baik hati, menjadi objek cinta Bisman, penguasa kejam yang haus kekuasaan. Saat lamaran Bisman ditolak ayah Suzzanna, pria itu membalas dengan menyantet ayahnya hingga tewas, memicu Suzzanna belajar ilmu hitam untuk balas dendam.
Kekuatan Bisman ternyata lebih gelap, menghantui Suzzanna dengan teror tak terduga, sementara ia bertemu Pramuja, pria saleh yang membawa secercah harapan cinta. Konflik memuncak saat Suzzanna terjebak antara jurang kegelapan santet dan pilihan menyelamatkan jiwa.
Dalam kegelapan desa terpencil, cinta terlarang memicu dendam paling mengerikan: seorang perempuan polos berubah menjadi ratu santet setelah ayahnya tewas akibat ilmu hitam penguasa kejam.
Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa menghidupkan kembali legenda horor Indonesia dengan Luna Maya dan Reza Rahadian, menjanjikan teror gaib yang tak hanya bikin merinding, tapi juga menggugat harga dosa berlapis.
Luna Maya kembali bertransformasi sebagai Suzzanna, menghadapi tantangan mendalami karakter ikonik ini seperti film sebelumnya, sambil menghormati warisan sang legenda.
Reza Rahadian berperan sebagai Pramuja, kagum pada penampilan Luna yang memukau, sementara Clift Sangra sebagai antagonis Bisman.
Disutradarai dengan fokus pada intrik manusiawi dan efek visual prostetik canggih, film ini tayang 18 Maret 2026 pas Lebaran.
Sebagai remake ketiga setelah Bernapas dalam Kubur dan Malam Jumat Kliwon, film ini gali psikologi dendam yang mengubah manusia, bukan hanya jumpscare gaib.
Tema dosa berlapis dan harga balas dendam relevan untuk penonton modern, dipadukan sinematografi horor nusantara autentik. Prediksi laris karena nostalgia Suzzanna dan cast bintang.
Dari prostetik mengerikan hingga plot twist yang mengguncang, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan sekadar horor Lebaran, melainkan cermin gelap dosa manusia yang abadi.
Hernanda Wijaya Mahasiswa Ilmu komunikasi Universitas Matlaul Anwar