Cibaliung Pandeglang: Warisan Sejarah, Budaya, dan Potensi Masa Depan

Rabu 21-01-2026,17:43 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

PANDEGLANG - INFORADAR.ID Kecamatan cibaliung merupakan salah satu kecamatan di kabupaten pandeglang yang terdiri dari 9 desa: Sukajadi, Sudimanik, Sorongan, Curug, Cihanjuang, Cibingbin, Cibaliung, Mendung, Mahendra.

Kampung Cibaliung terletak di Desa Cijaralang (kemungkinan varian nama Cihanjuang), Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Banten, dan menjadi saksi peristiwa sejarah kelam perjuangan kemerdekaan. 

Asal usul nama wilayah ini berasal dari kata Sunda "Ci" (cai/air) dan "Baliung" (alat kapak besar untuk menebang pohon atau membangun rumah), juga nama Sungai Cibaliung yang mengalir di sana. Kampung ini bagian dari kecamatan dengan 9 desa, termasuk Cihanjuang, dan kaya potensi tambang serta pariwisata dekat Ujung Kulon.

Nama "Cibaliung" secara harfiah berarti "air baliung", merujuk sungai dan alat tradisional Sunda mirip kampak untuk pekerjaan berat. Kecamatan ini dibentuk dari tradisi lokal Sunda-Banten, dengan nama yang mencerminkan geografi sungai dan peralatan adat.

Sejarah penting tugu cibaliung di kampung dahu satu, Desa Cihanjuang (Cijaralang), memperingati pahlawan yang gugur melawan Laskar Bambu Runcing (gerombolan Darul Islam) pada 1949, diresmikan 1971 oleh Brigjen Pol Soegiri.

Lokasi ini juga terkait agresi Belanda kedua, di mana pejuang Banten seperti Letkol Eri Soedewo bergerilya di pedalaman. Peristiwa ini menjadikan kampung sebagai situs peringatan patriotik nasional.

Budaya dan perkembangan wilayah ini memiliki kesenian tradisional Calung Renteng, yang berevolusi dari alat usir hama di sawah menjadi pertunjukan resmi sejak 2003 oleh Dinas Pariwisata Pandeglang.

Kecamatan Cibaliung berpotensi jadi ibu kota kabupaten baru karena SDA seperti emas (PT Aneka Tambang), perikanan, dan wisata. Penduduk mayoritas Sunda Muslim dengan norma gotong royong kuat.

Kata calung memiliki akhiran kata ‘lung’ sebagai ejaan lisan atas bunyi instrumen bersangkutan saat dimainkan. Bunyi instrumen berbahan dasar bambu ini diinterpretasi orang Sunda dengan sebutan ‘lung’ atau ‘klung’ (Nugraha, 2015).

Wacana lisan ung sebagai akhiran untuk penamaan instrumen juga ditemukan pada musik bambu lainnya di Sunda seperti angklung, kunclung, dan celempung (Sumaludin, 2022).

Cibaliung pandeglang mewarisi Sejarah colonial, kesenian tradisional seperti calung renteng dan batik primitif, serta potensi ekonomi dari produksi gula aren.

Masa depan cerah terbuka melalui pengembangan ekowisata dan industri berbasis tradisi, asal didukung kolaborasi pemerintah serta komunitas untuk keberlanjutan warisan ini.

 

Hernanda Wijaya Mahasiswa Ilmu komunikasi Universitas Matlaul Anwar

Kategori :