Impulsive Buying: Pengaruh Belanja Online terhadap Kebiasaan Konsumen

Jumat 08-08-2025,17:41 WIB
Reporter : Ghina Aulia Az-Zahra
Editor : Haidaroh

Fenomena impulsive buying atau pembelian impulsif kini semakin marak seiring dengan kemudahan akses belanja online. Cukup dengan scroll dan klik, seseorang bisa langsung membeli produk tanpa perencanaan sebelumnya. platform e-commerce bahkan sengaja merancang tampilannya agar mendorong pembelian spontan.

Salah satu faktor utama yang mendorong impulsive buying dalam belanja online adalah promosi kilat dan diskon terbatas. istilah seperti “flash sale”, “check out sekarang” atau “hanya hari ini” memicu rasa takut ketinggalan (FOMO) pada konsumen. Hal ini menciptakan tekanan waktu yang seringkali mengabaikan pertimbangan logis.

Selain itu, algoritma digital berperan besar dalam memperkuat dorongan belanja impulsif. Rekomendasi produk yang disesuaikan dengan histori pencarian membuat pengguna merasa “dilayani: secara personal. Padahal, ini justru membuat seseorang lebih sulit menahan diri untuk tidak membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Konsumen juga semakin terdorong untuk belanja secara emosional ketika melihat ulasan positif, foto influencer, atau testimoni visual yang menarik. Kepercayaan terhadap produk meningkat tanpa proses pertimbangan panjang. Belanja pun bukan lagi soal kebutuhan, melainkan pelampiasan sesaat.

Kebiasaan impulsive buying dalam belanja online bisa berdampak serius terhadap keuangan pribadi. Banyak orang tidak sadar bahwa pengeluaran kecil yang dilakukan berulang bisa menimbulkan penyesalan atau stres finansial di kemudian hari.

BACA JUGA:Ahmad Dhani Gratiskan Lagu Dewa 19 untuk Restoran, Bebas Bayar Royalti

BACA JUGA:TC PT Polyplex Films Indonesia Diresmikan Bupati Ratu Zakiyah Hari Ini

Mengapa impulsive Buying Lebih Rentan di Era Digital?

Belanja online memberikan ilusi kenyamanan dan kendali, padahal sebenarnya justru menciptakan ruang impulsif yang sangat kuat. Berbeda dengan belanja konvensional, konsumen tidak perlu melewati kasir atau merenung di lorong toko. Proses pembayaran yang instan membuat keputusan belanja terasa ringan.

Selain itu, kehadiran notifikasi, push alert, dan email promo yang datang setiap hari semakin memperbesar kemungkinan konsumen untuk tergoda.

Keadaan ini membuat kontrol diri semakin menurun karena selalu ada godaan baru. Konsumen pun menjadi semakin sulit membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Bagaimana Cara Mengendalikan Impulsive Buying?

Langkah pertama adalah dengan menyusun daftar belanja sebelum membuka aplikasi belanja online. Daftar ini bisa menjadi pengingat agar hanya membeli barang yang benar-benar diperlukan. Disiplin dalam mengikuti daftar akan membantu mencegah pembelian impulsif.

Selain itu, aktifkan fitur pengingat anggaran di e-commerce atau aplikasi keuangan pribadi. Banyak aplikasi yang kini bisa memantau pengeluaran secara real time. Menghindari belanja saat lelah, lapar, atau stres juga bisa membantu mengurangi keputusan impulsif yang tidak rasional.

BACA JUGA:Ini Alasan Kenapa Kamu Harus Datang ke Kota Serang Fair 2025, Gak Datang Nyesel

Kategori :