Pemberdayaan UMKM Kembangkan Tenun Ulos Sianipar Tembus Pasar Jerman
Warisan budaya Batak mendunia!--
INFORADAR.ID – Kain tenun tradisional Ulos asal Sumatra Utara terus menunjukkan pesonanya di panggung tekstil internasional. Mengutip laporan CNN Indonesia, Galeri Ulos Sianipar yang berlokasi di Medan menjadi salah satu pilar utama yang berhasil mengantarkan warisan budaya suku Batak ini merambah pasar global.
Usaha kreasi tenun yang dirintis oleh Robert Sianipar sejak tahun 1992 ini telah berkembang pesat melintasi tiga generasi. Bermula dari belasan pekerja, galeri tersebut kini memberdayakan lebih dari 300 perajin tenun tradisional lokal yang tersebar di berbagai sentra pembuatan Ulos di Sumatra Utara, seperti Tapanuli Utara, Toba, Samosir, hingga Simalungun.
Kain Ulos diproduksi secara tradisional menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dengan ciri khas perpaduan warna dominan merah, hitam, dan putih yang dihiasi jalinan benang emas atau perak.
Harga helai kain yang ditawarkan bervariasi mulai dari Rp200 ribu hingga Rp7 juta per lembar, tergantung pada tingkat kerumitan motif serta kehalusan teknik penenunan.
Perwakilan manajemen galeri, Nelly Simangungsong, membeberkan bahwa jangkauan pemasaran tidak hanya melayani permintaan domestik, melainkan telah merambah pasar ekspor seperti Malaysia, Singapura, Australia, Amerika Serikat, hingga Jerman. Penjualan internasional tersebut berkontribusi sekitar 40 persen dari total omzet bulanan galeri yang mencapai angka Rp1,5 miliar.
Keberhasilan penembusan pasar global ini tidak lepas dari peran Bank Indonesia (BI) yang konsisten memberikan pendampingan UMKM, pelatihan kontrol mutu, pendokumentasian sejarah, hingga fasilitasi pembeli melalui pameran internasional.
Repertoar karya Ulos Sianipar bahkan mencatatkan kebanggaan khusus dengan mendapat kepercayaan merancang busana adat untuk dua Presiden Republik Indonesia, yakni Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo.
Pencapaian ekspor tenun tradisional selaras dengan catatan Kementerian Perindustrian yang merekam pertumbuhan signifikan kinerja ekspor tenun ikat Indonesia. Penguatan jaringan pemasaran luar negeri serta regenerasi penenun muda di daerah menjadi aspek krusial agar kapasitas produksi Ulos mampu merespons permintaan pasar gaya hidup berstandar internasional yang kian meningkat.
Sinergi antara pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi komunitas terbukti mampu mentransformasi kain tenun daerah menjadi komoditas ekonomi berdaya saing tinggi.
Keberhasilan Galeri Ulos Sianipar membuktikan bahwa penguatan mutu produk, keotentikan teknik pembuatan tradisional, serta pembukaan akses pasar modern merupakan strategi ampuh dalam membawa warisan budaya nusantara mendunia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: