Mencari Gejala Overthinking di TikTok Bukanlah Self-Awareness, Ini Alasannya
Awerness-Galaxus france-
INFORADAR.ID- Kemudahan akses informasi di media sosial membuat kita sering kali mencari jawaban atas apa yang kita rasakan di sana.
Saat pikiran sedang penuh atau cemas, mengetik kata kunci gejala overthinking di TikTok rasanya menjadi jalan pintas yang menenangkan.
Ketika menemukan video yang sangat sesuai dengan kondisi kita, kita mungkin merasa sudah mencapai tahap kesadaran diri.
Padahal, sekadar merasa terhubung atau mendapatkan validasi dari sebuah konten singkat sama sekali berbeda dengan makna kesadaran diri yang sesungguhnya.
BACA JUGA:Jangan Sampai Salah Pilih! Tips Memilih Exchange Crypto yang Aman untuk Pemula 2026
BACA JUGA:Istilah 'Feminine Intuition' Ramai Diperbincangkan, Apakah Benar Nyata Adanya?
Algoritma media sosial dirancang untuk terus menyuapi kita dengan konten yang kita sukai atau cari.
Saat kita mencari tentang overthinking, beranda kita akan dipenuhi oleh ribuan orang yang membicarakan hal serupa.
Ini menciptakan sebuah ruang gema di mana kita merasa divalidasi dan dimengerti. Sayangnya, validasi ini sering kali membuat kita terjebak dalam kenyamanan semu.
Kita merasa puas hanya dengan mengetahui bahwa kita tidak sendirian, tanpa benar-benar menggali akar penyebab dari kebiasaan terlalu banyak berpikir tersebut.
BACA JUGA:Suka Masak Okra Tapi Kesel Sama Lendirnya? Cobain 3 Trik Ini!
BACA JUGA:Kabar Baik buat Musisi! Mulai Agustus 2026, Daftar Hak Cipta Lagu Jadi Rp0
Selain itu, konten di TikTok umumnya berdurasi singkat dan sering kali dibuat untuk tujuan hiburan atau sekadar berbagi pengalaman pribadi kreatornya, bukan analisis psikologis yang komprehensif.
Mencari gejala di platform tersebut sangat rentan memicu diagnosis mandiri yang keliru.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: