Jebakan Struk Digital, Bedah Skema Hidden Fees yang Menguras Kantong Konsumen

Jebakan Struk Digital, Bedah Skema Hidden Fees yang Menguras Kantong Konsumen

Pajak-Direktorat jendral pajak-

INFORADAR.ID — Bagi kalian yang sering melakukan pemesanan lewat delivery order, kini kanyaman tersebut harus konsumen bayar mahal. Tanpa kita sadari, harga akhir yang tertera dalam struk pembayaran delivery order kerap mengalami kelonjakan harga drastis dari harga barang yang kita pesan.

 

Fenomena ini adalah gurita hidden fees atau dikenal dengan biaya tersembunyi. Hak ini kian meresahkan karena sering kali membuat total tagihan yang ada cukup membengkak sampai 40%.

 

Berdasarkan simulasi transaksi dan perbandingan struk digital di berbagai platform utama seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood, pembengkakan ini terjadi akibat akumulasi komponen biaya berlapis. Skema tarif yang diterapkan masing-masing platform kini tidak lagi sesederhana harga makanan ditambah ongkos kirim.

 

Saat konsumen masuk ke halaman pembayaran, mereka akan disuguhkan dengan banyaknya rentetan biay baru. Mulai dari biaya jasa aplikasi yang berkisar Rp2.000-Rp4.000, kemudian biaya layanan yang dihitung dari persentase total belanja, hingga biaya penanganan jika pesanan nominalnya terlalu kecil atau memesan saat jam-jam sibuk kerja. 

BACA JUGA:7 Rekomendasi Bulu Mata Palsu Natural Terbaik 2026, Bikin Mata Lentik Tanpa Terlihat Berlebihan

BACA JUGA:WhatsApp Siapkan Fitur Pengingat Ulang Tahun, Chat Makin Personal Mirip Facebook

Akumulasi biaya berlapis ini menciptakan sebuah ilustrasi yang tanpa kita sadari biaya murah ketika di awal, namun berakhir dengan pembengkakan tagihan yang cukup signifikan ketika akan melakukan pembayaran keseluruhan.

 

Analisis kebijakan skema tarif menunjukkan adanya strategi pemecahan harga (price partitioning) yang agresif. Sebagai contoh, untuk seporsi ayam geprek seharga Rp25.000, konsumen bisa berakhir membayar hingga Rp37.000 setelah ditambah ongkos kirim dasar Rp8.000, biaya aplikasi Rp3.000, dan biaya pengemas tambahan dari resto sebesar Rp1.000.

 

Ironisnya, banyak promo potongan harga yang terpampang di halaman depan sering kali habis digunakan hanya untuk menutup banyaknya biaya tambahan tersebut. Promo yang diberikan seharunya bisa meminimalisir pengeluaran konsumen malah harus membayar dengan harga yang sama ketika melihat di awal.

 

BACA JUGA:Meta Hapus Fitur AI Instagram Usai Diprotes, Foto Pengguna Tak Lagi Bisa Dimodifikasi Sembarangan

BACA JUGA:Profil Aisha COC Season 3, Mahasiswi IPB dengan Segudang Prestasi dan Juara Memori Internasional

Adanya praktik pembebanan biaya berlapis yang tidak transparan sejak awal pencarian menu, perlahan membuat konsumen mulai mengalami kejenuhan dan jika hal ini terus dibiarkan bisa berdampak pada penurunan jumlah konsumen untuk melakukan pemesanan via delivery.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: