Atalia Praratya Sebut Gen Z Jadi Generasi Paling Aktif Membaca
Anggota MPR Atalia Praratya mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa Gen Z justru menjadi generasi yang paling aktif membaca--
INFORADAR.ID – Selama ini, Generasi Z atau Gen Z sering kali dicap negatif sebagai kelompok masyarakat yang cenderung malas dan hanya menyukai pasokan informasi visual yang singkat serta instan.
Namun, stigma miring tersebut kini berhasil dipatahkan oleh Anggota MPR RI, Atalia Praratya, yang secara terbuka memaparkan data bahwa Gen Z justru tumbuh menjadi generasi yang paling aktif membaca dibandingkan dengan Generasi Milenial maupun Generasi X.
Menurut laporan dari laman website detikNews, pandangan menarik ini disampaikan langsung oleh Atalia saat dirinya hadir sebagai pembicara kunci dalam agenda seminar perpustakaan nasional.
Acara diskusi edukatif yang mengusung tema "Perpustakaan Tanpa Batas: Gen Z Suka Baca Ga Sih?" tersebut diselenggarakan atas bentuk kerja sama antara pihak Perpustakaan MPR RI dengan Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Widyatama di Kota Bandung.
Atalia Praratya memaparkan keunggulan tingkat literasi anak muda ini dengan merujuk pada hasil rekaman survei yang dikeluarkan oleh lembaga riset Jakpat. Berdasarkan data harian tersebut, persentase aktivitas membaca kelompok Gen Z tercatat mendominasi di angka 26%.
Perolehan indeks ini terbukti jauh lebih tinggi apabila disandingkan dengan tingkat keterbacaan kaum Milenial yang berada di angka 20%, serta kelompok rumpun Generasi X yang hanya menyentuh angka 18%.
Untuk jenis bahan bacaan sendiri, rumpun generasi yang lahir di rentang tahun 1997 hingga 2012 ini lebih menggemari artikel digital dari portal daring, disusul oleh buku fisik, dan buku elektronik (e-book). Karakteristik Gen Z yang kreatif, kritis, dan kolaboratif membuat mereka sangat fasih dalam memanfaatkan sarana internet untuk menyerap pengetahuan, tidak hanya terpaku pada buku konvensional melainkan juga lewat medium audio visual seperti podcast ataupun infografis grafis.
Demi menjaga sekaligus meningkatkan konsistensi minat baca yang tinggi tersebut, Atalia mengusulkan agar wajah perpustakaan umum segera dirombak menjadi sebuah wadah pusat pengetahuan atau knowledge hub.
Konsep ruang baca konvensional perlu dimodifikasi menjadi ruang kerja bersama (co-working space) gratis, studio pembuatan konten podcast sederhana, hingga ruang diskusi publik. Hal senada turut diamini oleh pakar kebahasaan Ivan Lanin yang menegaskan bahwa kebiasaan membaca dibentuk dari sebuah fondasi identitas diri, bukan sekadar urusan kelengkapan fasilitas rak buku harian.
Di sisi lain, Kepala Prodi Perpustakaan Universitas Widyatama, Haria Saputry, memberikan sudut pandang unik dengan menilai kegiatan literasi ini sebagai sarana terapi stres (stress therapy) yang efektif bagi para remaja. Karakteristik komunal Gen Z yang rentan mengalami kecemasan akibat kelelahan digital dapat diredam melalui aktivitas membaca buku fiksi secara santai.
Ruang baca yang tenang dan estetik, seperti tren cafe library yang kini marak di media sosial, terbukti ampuh membantu menurunkan detak jantung, memilah informasi sehat, sekaligus menjaga kestabilan kesehatan mental mereka dari dampak buruk arus informasi liar di internet.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: