OpenAI Luncurkan Lockdown Mode di ChatGPT, Fitur Baru untuk Kurangi Risiko Serangan Siber Prompt Injection

OpenAI Luncurkan Lockdown Mode di ChatGPT, Fitur Baru untuk Kurangi Risiko Serangan Siber Prompt Injection

OpenAI luncurkan Lockdown Mode pada ChatGPT --

INFORADAR.ID – OpenAI resmi memperkenalkan fitur keamanan terbaru bernama Lockdown Mode yang dirancang untuk memberikan lapisan perlindungan tambahan bagi pengguna ChatGPT dari ancaman serangan siber berbentuk prompt injection.

Fitur Lockdown Mode ditujukan khusus bagi pengguna yang menangani data sensitif dan membutuhkan tingkat keamanan lebih tinggi saat berinteraksi dengan kecerdasan buatan.

Pengumuman tersebut disampaikan OpenAI di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap metode serangan siber yang memanfaatkan instruksi tersembunyi di berbagai sumber digital. Serangan prompt injection diketahui dapat memengaruhi cara kerja chatbot dengan menyisipkan perintah berbahaya melalui halaman web, dokumen, maupun sumber informasi lainnya.

Dalam laporan yang dikutip dari TechCrunch pada Sabtu (6/6), Lockdown Mode bekerja dengan membatasi sejumlah fitur yang berpotensi menjadi jalur masuk bagi serangan tersebut. Salah satu langkah utamanya adalah menonaktifkan akses pencarian web secara langsung ketika mode keamanan ini diaktifkan.

Dengan pembatasan tersebut, pengguna hanya dapat mengakses konten yang telah tersimpan sementara atau cached content di perangkat mereka. Langkah ini dilakukan untuk meminimalkan kemungkinan chatbot mengambil informasi dari sumber eksternal yang berisiko mengandung instruksi tersembunyi.

BACA JUGA:Saat Isu Agama Menjadi Headline: Mampukah Media Menjaga Persatuan Bangsa?

BACA JUGA:Media Sosial Bisa Jadi Ruang Damai, Bukan Arena Konflik

Tidak hanya menghentikan pencarian web, Lockdown Mode juga membatasi sejumlah kemampuan lain yang selama ini tersedia di ChatGPT. Fitur pengambilan gambar dari internet, riset mendalam (deep research), hingga Mode Agen turut dinonaktifkan selama perlindungan ini digunakan.

Meski demikian, OpenAI mengakui bahwa Lockdown Mode bukanlah solusi mutlak yang mampu menghilangkan seluruh risiko serangan prompt injection. Perusahaan menegaskan bahwa ancaman tersebut masih dapat muncul melalui berbagai sumber lain yang tetap dapat diakses sistem.

Menurut OpenAI, instruksi berbahaya masih berpotensi ditemukan dalam konten web yang tersimpan di cache maupun file yang diunggah langsung oleh pengguna. Dalam kondisi tertentu, konten tersebut tetap bisa memengaruhi akurasi jawaban atau perilaku sistem AI.

"Lockdown Mode tidak ditujukan untuk semua orang," tulis OpenAI dalam penjelasannya. Perusahaan menegaskan bahwa fitur ini lebih relevan bagi individu maupun organisasi yang secara rutin mengelola informasi penting dan rahasia.

OpenAI menjelaskan bahwa tujuan utama fitur ini bukan untuk menghilangkan ancaman sepenuhnya, melainkan mengurangi kemungkinan terjadinya kebocoran data sensitif apabila pengguna menghadapi serangan prompt injection.

BACA JUGA:Xiaomi 17T Resmi Meluncur di Indonesia, Usung Kamera Leica dan Baterai 6.500 mAh Mulai Rp8,9 Juta

BACA JUGA:Google Try On Resmi Hadir di Indonesia, Belanja Online Kini Bisa Coba Pakaian Secara Virtual dengan AI

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: