Saat Identitas Menjadi Sumber Konflik, Siapa yang Menjembatani?
Ilustrasi Konflik-Detik.com-
INFORADAR.ID- Beberapa waktu terakhir, media sosial sering menjadi ruang perdebatan yang melibatkan identitas agama, budaya, maupun kelompok tertentu.
Perbedaan pendapat yang awalnya biasa saja sering berubah menjadi saling serang di kolom komentar.
Tidak sedikit pengguna media sosial yang lebih fokus mempertahankan identitas kelompoknya daripada mencoba memahami sudut pandang orang lain.
Fenomena ini menunjukkan bahwa konflik identitas tidak selalu terjadi dalam bentuk bentrokan fisik.
BACA JUGA:Fenomena Perempuan Mandiri yang Sering Melajang, Sebuah Pilihan Sadar atau Tuntutan Zaman?
BACA JUGA:Fakta atau Mitos:
Di era digital, konflik dapat muncul melalui komentar, unggahan, hingga penyebaran stereotip yang memperkuat jarak antar kelompok.
Ketika seseorang merasa identitas kelompoknya terancam, ia cenderung bereaksi secara emosional dan defensif.
Kondisi tersebut dapat dilihat dari berbagai perdebatan yang sering muncul di media sosial terkait isu agama dan kepercayaan.
Salah satu contohnya adalah masih adanya diskriminasi terhadap kelompok penghayat kepercayaan seperti Sapta Darma yang pernah terjadi di Desa Sukoreno, Jember.
BACA JUGA:Fakta atau Mitos:
BACA JUGA:Sineas muda Asal Banten, Tembus Festival Film Internasional di Norwegia dan Bali
Mereka mengalami kesulitan dalam memperoleh pengakuan identitas dan menghadapi berbagai bentuk penolakan sosial.
Kasus ini menunjukkan bahwa persoalan identitas masih menjadi tantangan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
