Disway Award

Saat Identitas Menjadi Sumber Konflik, Siapa yang Menjembatani?

Saat Identitas Menjadi Sumber Konflik, Siapa yang Menjembatani?

Ilustrasi Konflik-Detik.com-

Psikolog Jean S. Phinney menjelaskan bahwa setiap individu memiliki keterikatan terhadap identitas kelompoknya. 

Keterikatan tersebut sebenarnya dapat menciptakan rasa bangga dan solidaritas.

Namun, jika tidak diimbangi dengan keterbukaan, identitas dapat berubah menjadi batas yang memisahkan seseorang dari kelompok lain.

Dalam kondisi seperti ini, peran tokoh agama menjadi semakin penting. tokoh agama tidak hanya bertugas menyampaikan ajaran keagamaan, tetapi juga menjadi penengah yang mampu menghadirkan pesan-pesan toleransi di tengah masyarakat. 

Ketika ruang digital dipenuhi perdebatan dan prasangka, tokoh agama dapat mengingatkan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan bagian dari realitas sosial yang harus dihormati.

Masyarakat Indonesia sejak awal dibangun di atas keberagaman. Karena itu, tantangan terbesar saat ini bukanlah bagaimana menghilangkan perbedaan, tetapi bagaimana mengelola perbedaan tersebut agar tidak berubah menjadi konflik. 

Dialog yang sehat, literasi digital, dan sikap saling menghormati menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan oleh setiap orang.

Pada akhirnya, identitas tidak seharusnya menjadi tembok pemisah. Identitas justru dapat menjadi jembatan untuk saling mengenal apabila diiringi dengan komunikasi yang terbuka dan sikap toleran. 

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk menghargai perbedaan menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga harmoni sosial.

 

Penulis Sindy Sifa Nurqolbi

Mahasiswa UIN SMH BANTEN

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: