Mahasiswa UIN Banten Raih Prestasi Lewat Lomba Science in 60s Bertema Literasi Digital
Agnia Dwi Rahma sukses raih prestasi lewat karya video literasi digital di lomba Science in 60s.--
INFORADAR.ID - Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten kembali menorehkan prestasi di bidang kreativitas digital. Agnia Dwi Rahma, mahasiswa jurusan Tadris Bahasa Inggris, berhasil menjadi salah satu pemenang dalam lomba Science in 60s yang merupakan bagian dari kegiatan Lomba Ilmiah Terpadu dan Aksi (LITERASI) yang diselenggarakan oleh UKM Kajian Ilmiah Universitas Faletehan.
Kompetisi ini menantang peserta untuk membuat video iklan layanan masyarakat berdurasi singkat dengan mengangkat tema literasi digital. Dalam waktu terbatas, peserta dituntut mampu menyampaikan pesan edukatif secara padat, kreatif, dan tetap menarik bagi audiens.
Agnia menjelaskan bahwa lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi biasa, melainkan wadah untuk mengasah kemampuan komunikasi visual. Ia menyebutkan bahwa peserta harus mampu mengemas pesan yang kompleks menjadi sederhana dan mudah dipahami.
“Lomba ini tuh intinya kita bikin video singkat tentang literasi digital, tapi pesannya harus tetap nyampe walaupun waktunya terbatas,” ujar Agnia.
Dalam karya yang dibuatnya, Agnia mengangkat konsep storytelling yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia menggambarkan kebiasaan generasi muda yang sering menghabiskan waktu untuk scrolling di media sosial, kemudian mengarahkan cerita tersebut pada perubahan perilaku menjadi lebih produktif dengan memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar.
Secara tidak langsung, Agnia menuturkan bahwa pendekatan cerita dipilih agar pesan yang disampaikan terasa lebih relevan dan tidak menggurui. Ia juga menambahkan sentuhan visual sinematik agar video yang dibuat mampu menarik perhatian penonton.
“Awalnya aku angkat kebiasaan orang-orang sekarang yang suka scroll terus, terus aku coba ubah jadi lebih positif, kayak nunjukin kalau teknologi juga bisa dipakai buat belajar,” katanya.
Proses pembuatan karya tersebut terbilang cukup singkat. Agnia mengaku hanya membutuhkan waktu sekitar satu hari satu malam, mulai dari tahap perencanaan konsep, pengambilan gambar, hingga proses editing. Meski demikian, ia menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan memori perangkat hingga pembagian waktu dengan aktivitas lain.
Ia juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam lomba ini adalah bagaimana menyampaikan pesan yang cukup kompleks dalam durasi singkat, tanpa mengurangi daya tarik visual.
“Yang paling susah itu gimana caranya bikin pesan yang cukup berat tapi tetap ringan ditonton dan nggak ngebosenin,” ungkapnya.
Keberhasilan yang diraih Agnia tentu tidak lepas dari persiapan yang dilakukan sejak awal pengumuman lomba. Ia menyusun ide, merancang alur cerita, hingga menyesuaikan konsep dengan tema besar, yakni “Penguatan Budaya Literasi di Era Digital untuk Mewujudkan Generasi Inovatif”.
Atas pencapaiannya tersebut, Agnia mengaku merasa sangat bersyukur. Ia menilai kemenangan ini menjadi pengalaman berharga sekaligus motivasi untuk terus berkarya di bidang kreatif, khususnya dalam produksi konten edukatif.
“Pastinya senang banget, ini jadi motivasi buat aku supaya ke depannya bisa terus bikin karya yang lebih baik lagi,” tuturnya.
Melalui ajang ini, Agnia tidak hanya membawa pulang prestasi, tetapi juga pengalaman baru dalam dunia produksi video dan penyampaian pesan secara efektif. Ia berharap semakin banyak mahasiswa yang berani mencoba dan mengembangkan kreativitasnya, terutama dalam memanfaatkan teknologi secara positif di era digital.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
