Fenomena Financial Anxiety Hantui Gen Z di Era Flexing Media Sosial
Finansial Anxiety di era Flexing Media Sosial-Pinterest/Minha moda digital-
INFORADAR.ID - Kecemasan finansial atau financial anxiety kini menjadi fenomena yang semakin dirasakan oleh generasi muda, khususnya Gen Z di Indonesia. Tekanan ekonomi yang tidak menentu, ditambah paparan gaya hidup mewah di media sosial, memicu perasaan tidak aman terhadap kondisi keuangan pribadi.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada kondisi ekonomi individu, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan mental dan produktivitas sehari-hari. Sejumlah faktor menjadi pemicu meningkatnya kecemasan finansial di kalangan Gen Z.
Mulai dari kekhawatiran terhadap masa depan akibat inflasi dan kenaikan biaya hidup, hingga fenomena money dysmorphia, yaitu perasaan “kurang” secara finansial akibat perbandingan dengan gaya hidup orang lain di media sosial.
Selain itu, kemudahan akses layanan keuangan digital seperti paylater juga mendorong perilaku konsumtif. Banyak anak muda terjebak dalam utang demi mengikuti tren atau fear of missing out (FOMO).
Di sisi lain, tingginya angka pengangguran di kalangan anak muda turut memperparah rasa tidak aman terhadap kondisi finansial jangka panjang. Kecemasan finansial tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental.
BACA JUGA:Tas Denim Jadi Tren Fashion 2026, Sentuhan Y2K Kembali Hidupkan Gaya Kasual
BACA JUGA:Detail Handle Rantai pada Tas Kembali Jadi Sorotan Tren Fashion 2026
Tekanan untuk terus produktif demi stabilitas keuangan sering kali berujung pada kelelahan atau burnout. Tak sedikit pula yang mengalami gangguan tidur hingga kecemasan berlebih karena terus memikirkan kondisi keuangan.
Iis Aprianti, seorang Gen Z asal Serang yang telah bekerja selama empat tahun, mengungkapkan bahwa tekanan finansial banyak dipengaruhi oleh tuntutan hidup dan paparan media sosial.
Ia menilai bahwa tuntutan untuk mandiri secara finansial tidak sebanding dengan kenaikan harga kebutuhan hidup. Selain itu, menurutnya, media sosial turut memperkuat perasaan tidak puas karena sering membandingkan diri dengan orang lain.
“Menurut saya karena banyak tuntutan. Di satu sisi kita harus mandiri secara finansial, tapi di sisi lain harga kebutuhan hidup makin naik. Belum lagi kalau lihat media sosial, banyak yang kelihatan hidupnya ‘wah’, jadi tanpa sadar kita ngebandingin diri,” ujarnya.
Iis juga mengaku merasakan langsung kecemasan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengatakan bahwa kondisi penghasilan yang terbatas membuatnya sering memikirkan kebutuhan masa kini hingga masa depan.
BACA JUGA:Parfum Tidak Tahan Lama di Kulit, Ini Faktor Penyebab dan Cara Mengatasinya
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
