Disway Award

Pendidikan Bukan Pabrik Tenaga Kerja: Saat Sekolah Kehilangan Misi Membentuk Manusia

Pendidikan Bukan Pabrik Tenaga Kerja: Saat Sekolah Kehilangan Misi Membentuk Manusia

Pendidikan Bukan Pabrik Tenaga Kerja: Saat Sekolah Kehilangan Misi Membentuk Manusia--

INFORADAR.ID - Pendidikan sejatinya tidak diciptakan semata-mata untuk mencetak pencari kerja. Tujuan utamanya jauh lebih mendasar: membentuk karakter, menumbuhka kesadaran diri, serta memanusiakan manusia. Namun, dalam praktiknya, sistem Pendidikan modern justru kerap menjauh dari tujuan luhur tersebut.

Sekolah hari ini sering dipersepsikan seperti pabrik. Kurikulum disusun seragam, capaian diukur lewat angka, dan keberhasilan ditentukan oleh seberapa cepat lulusan terserap pasar kerja. Siswa diposisikan layaknya mesin produksi: duduk, patuh, menghafal, dan lulus. Padahal, manusia bukan mesin yang hanya bekerja berdasarkan perintah. Akibatnya, banyak peserta didik tumbuh tanpa benar-benar mengenal dirinya sendiri. Mereka mungkin unggul secara akademik, namun rapuh secara mental. Mereka bisa menjawab soal ujian, tetapi gagap saat harus mengambil keputusan hidup. Pendidikan kehilangan perannya sebagai ruang refleksi dan pembentukan nilai.

Padahal, pendidikan seharusnya menjadi tempat manusia belajar berpikir kritis, memahami emosi, menghargai perbedaan, dan menemukan makna hidup. Sekolah idealnya membimbing peserta didik untuk bertanya “siapa saya” dan “untuk apa saya hidup”, bukan sekadar “pekerjaan apa yang akan saya dapatkan”. Tekanan sistem juga kerap memaksa guru berperan sebagai operator kurikulum, bukan pendidik. Waktu habis untuk mengejar target administrasi dan capaian akademik, sementara ruang dialog, empati, dan pembelajaran kontekstual semakin menyempit. Hubungan guru dan murid menjadi transaksional, bukan relasional.

Jika pendidikan terus dipersempit menjad urusan pasar tenaga kerja, maka kita sedang menyiapkan generasi yang terampil namun kehilangan arah. Bangsa ini tidak hanya membutuhkan pekerja, tetapi manusia yang berkarakter, sadar diri, dan mampu bertanggung jawab atas pilihan hidupnya.

Sudah saatnya paradigma pendidikan dikembalikan pada hakikatnya. Sekolah bukan pabrik. Murid bukan produk. Dan pendidikan bukan sekadar tiket menuju dunia kerja, melainkan proses panjang untuk membentuk manusia seutuhnya.

 

Fikri Habib Hassar Maldya Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mathla’ul Anwar

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: