Disway Award

Diremehkan Berkali-kali, Bangkit Berkali-kali: Real Madrid dan Seni Menolak Kalah

Diremehkan Berkali-kali, Bangkit Berkali-kali: Real Madrid dan Seni Menolak Kalah

Real Madrid taktik yang rapih seni menolak kekalahan--

INFORADAR.ID - Berbicar buruk tentang Real Madrid sering kali berarti melupakan satu hal penting: mereka sudah berkali-kali dianggap tamat. Dianggap habis, dianggap menua, dianggap hanya hidup dari nama besar dan romantisme masa lalu.

Namun, entah mengapa, setiap kali vonis itu dijatuhkan, Real Madrid justru kembali berdiri—lebih keras, lebih dingin, dan lebih mematika.

Sepanjang sejarahnya, Real Madri bukan klub yang selalu dominan secara permainan. Mereka bukan tim yang selalu paling rapi, paling indah, atau paling modern secara taktik.

Tapi satu hal yang tak pernah bisa dicabut dari mereka adalah mental juara. Mental yang membuat mereka bertahan di saat tim lain runtuh. Mental yang membuat mereka hidup di momen-momen yang secara logika seharusnya mustahil.

Setiap era punya cerita yang sama. Saat Cristiano Ronald pergi, Madrid dianggap kehilangan nyawa. Saat para pemain senior menua, mereka dicap selesai. Saat kalah di liga, mereka ditertawakan.

Namun di Liga Champions—panggung yang seolah memang ditakdirkan untuk mereka—Real Madrid selalu menemukan cara untuk kembali.

Kritik terhadap Real Madrid sering kali berangkat dari statistik dan performa sesaat. Padahal, klub ini hidup dari sesuatu yang tak selalu bisa diukur angka: pengalaman, ketenangan, dan keyakinan bahwa pertandingan belum selesai sampai peluit akhir berbunyi.

Lawan bisa unggul penguasaan bola, bisa lebih agresif, bisa terlihat lebih siap. Tapi Madri hanya butuh satu momen untuk mengubah segalanya.

Inilah sebabnya mengapa meremehkan Real Madrid hampir selalu berujung penyesalan. Mereka bukan sekadar klub sepak bola, melainkan simbol ketahanan. Simbol bahwa sejarah bukan beban, melainkan senjata.

Setiap trofi bukan hanya kenangan, tetapi pengingat bahwa mereka tahu persis bagaiman caranya menang—bahkan ketika dunia yakin mereka akan kalah.

Pada akhirnya, Real Madrid mungkin akan kalah juga suatu hari nanti. Semua tim pasti. Namun satu pelajaran seharusnya sudah cukup: jangan pernah menganggap mereka selesai sebelum benar-benar selesai. Karena dalam sepak bola, dan terutama dalam cerita Real Madrid, keajaiban bukan kebetulan—ia adalah kebiasaan.

 

Fikri Habib Hassar Maldya Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universita Mathla’ul Anwar

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: