Budidaya Maggot Black Soldier Fly , Upaya KKM 35 Atasi Persoalan Sampah Permukiman Padat
Dokumentasi warga yang hadir di kegiatan sosialisasi tersebut --
INFORADAR.ID - Program kerja budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) menjadi salah satu upaya yang dilakukan Kelompok KKM 35 dalam menjawab persoalan lingkungan di Kelurahan Kasunyatan, khususnya Kampung Sindangsari.
Permukiman yang padat serta minimnya lahan pembuangan sampah membuat pengelolaan sampah rumah tangga di wilayah tersebut belum berjalan optimal. Sampah organik kerap menumpuk dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi warga sekitar.
Ketua KKM 35, Wildan Kemal Musyaffa, menjelaskan bahwa program budidaya maggot BSF berangkat dari hasil survei dan observasi langsung di lapangan. Menurutnya, kondisi lingkungan yang padat dengan jarak antarrumah yang saling berdekatan membutuhkan solusi pengelolaan sampah yang sederhana dan tidak memerlukan lahan luas
“Budidaya maggot BSF kami nilai relevan karena bisa mengolah sampah organik dengan cepat dan mudah diterapkan di lingkungan padat,” ujarnya.
Selain sebagai solusi pengurangan sampah, budidaya maggot BSF juga dinilai memiliki manfaat ganda. Maggot dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak bernilai gizi tinggi, sementara sisa penguraiannya atau kasgot dapat digunakan sebagai pupuk organik.
Jika dikelola secara berkelanjutan, hasil budidaya maggot juga berpotensi memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Sasaran utama dari program ini adalah ibu rumah tangga yang memiliki peran besar dalam pengelolaan sampah organik sehari-hari. Penanggung jawab program sosialisasi budidaya maggot, Dea Ayumar Rianda, mengatakan respons masyarakat cukup positif sejak awal kegiatan.
“Antusiasme warga terlihat dari banyaknya peserta yang hadir dan aktif bertanya, mulai dari cara perawatan maggot sampai manfaat ekonominya,” kata Dea.
Kegiatan sosialisasi sekaligus pembagian starter kit maggot dilaksanakan di area depan posko laki-laki yang berada dekat pos ronda Kampung Sindangsari. Lokasi tersebut dipilih karena mudah dijangkau warga dan memiliki ruang yang cukup luas untuk menunjang kelancaran kegiatan.
Program ini difokuskan di Kampung Sindangsari sebagai langkah awal meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah organik.
Selama masa KKN berlangsung, tim memberikan pendampingan melalui pembagian pamflet perawatan maggot serta kontak yang dapat dihubungi warga jika membutuhkan bimbingan lanjutan.
Pemateri Alfino Fauzan Tediansyah menjelaskan pentingnya pemahaman masyarakat mengenai perbedaan maggot BSF dengan belatung lalat sampah. Ia menegaskan bahwa maggot BSF berasal dari lalat yang tidak membawa penyakit dan tidak menimbulkan bau, sehingga aman dimanfaatkan.
Sementara itu, pemateri Riyo Vildy Tarsita Pratama memaparkan cara perawatan maggot BSF yang tergolong mudah. Menurutnya, media maggot harus dijaga dalam kondisi ideal, tidak terlalu kering maupun terlalu lembap.
Sampah organik seperti nasi sisa, sayur, dan buah lunak dapat digunakan sebagai pakan, sementara tulang dan kulit buah keras sebaiknya dihindari.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
