Disway Award

Pagi, Kopi, dan Realitas Hidup Kelas Menengah

Pagi, Kopi, dan Realitas Hidup Kelas Menengah

Pagi, kopi, dan realitas hidup kelas menengah--

INFORADAR.ID - Pagi selalu datang dengan ritual yang sama: bangun, membuka ponsel, lalu menyeruput kopi. Di sela aroma kopi yang mengepul, kelas menengah Indonesia memulai harinya—dengan harapan kecil agar hari ini berjalan “cukup baik”. Tidak perlu istimewa, yang penting cukup.

Kelas menengah adalah kelompok yang paling sibuk, namun paling sering merasa cemas. Gaji datang tiap bulan, tapi jarang terasa lapang. Ada penghasilan, tapi juga cicilan. Ada pekerjaan tetap, tapi selalu dihantui rasa tidak aman: takut sakit, takut kehilangan kerja, takut biaya pendidikan naik, takut masa depan anak lebih mahal dari hari ini.

Kopi di pagi hari sering kali bukan sekadar minuman, tapi penenang. Ia menjadi jeda singkat sebelum realitas kembali menekan. Di meja makan atau sudut dapur, kopi menemani pikiran tentang target kerja, harga kebutuhan pokok, tagihan listrik, hingga notifikasi grup kantor yang sudah aktif sejak subuh.

Ironisnya, kelas menengah sering dianggap “baik-baik saja”. Terlalu mapan untuk disebut miskin, tapi terlalu rapuh untuk merasa aman. Bantuan sosial jarang menyentuh, sementara pajak dan kewajiban negara selalu datang tepat waktu.

Dalam statistik, mereka disebut tulang punggung ekonomi. Dalam kehidupan nyata, mereka sering merasa sendirian.

Di media sosial, kelas menengah dituntut untuk terus tampak berhasil. Liburan sesekali, kopi di kafe, foto keluarga yang rapi. Padahal di balik itu, banyak kompromi yang tak terlihat: menunda mimpi, menekan keinginan, dan belajar berdamai dengan kata “nanti”.

Pagi hari menjadi momen paling jujur. Saat kopi masih hangat dan dunia belum terlalu bising, kelas menengah bernegosiasi dengan dirinya sendiri: bertahan, melanjutkan, dan tetap bekerja. Bukan karena semuanya baik-baik saja, tetapi karena berhenti bukan pilihan.

Mungkin itulah realitas hidup kelas menengah hari ini. Tidak heroik, tidak tragis, tapi penuh daya tahan. Dan setiap pagi, dengan secangkir kopi, mereka kembali memilih untuk berjuang—diam-diam, tanpa sorak, namun nyata.

 

Fikri Habib Hassar Maldya Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mathla’ul Anwar

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: