Hilirisasi Pertanian Jadi Senjata Baru Lebak Lawan Kemiskinan
Hilirisasi Pertanian -Istimewa-
INFORADAR.ID - Pemerintah Kabupaten Lebak di bawah kepemimpinan Bupati Hasbi Asyidiki Jayabaya menjadikan hilirisasi pertanian sebagai prioritas pembangunan.
Menurut Hasbi, strategi ini tidak hanya mampu meningkatkan nilai tambah hasil panen petani, tetapi juga menjadi langkah penting untuk memperkuat daya saing daerah.
Hilirisasi pertanian pun diyakini bisa menjadi solusi konkret dalam menekan jumlah warga miskin ekstrem yang masih cukup tinggi di Lebak.
Upaya tersebut sekaligus mendukung terwujudnya kemandirian pangan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Dengan strategi Hilirisasi pertanian ini, Lebak diharapkan tak lagi hanya mengandalkan produksi di hulu, melainkan juga mampu mengelola hasil pertanian secara mandiri.
BACA JUGA:Mantap! Pemkab Lebak Tiru Sistem Pengelolaan Sampah Kota Bandung
BACA JUGA:Heboh! Arhan Gugat Cerai Istri, Ini Fakta-Fakta Mengejutkannya
Hilirisasi Pertanian Jadi Prioritas Pembangunan
Komitmen itu ditegaskan Hasbi saat menghadiri peresmian dapur makan bergizi gratis (MBG) di Desa Pasar Keong, Kecamatan Cibadak, Kamis 21 Agustus 2025.
Ia mengaku memiliki tanggung jawab besar untuk membawa manfaat nyata bagi lebih dari 1,5 juta jiwa penduduk yang tersebar di 28 kecamatan.
“Jabatan itu hanya sementara, yang abadi adalah manfaat kita bagi masyarakat. Karena itu, saya harus bekerja bersama OPD, camat, hingga kepala desa,” ujarnya.
Hasbi menambahkan, hilirisasi pertanian terutama pada komoditas padi akan segera diwujudkan melalui pembangunan rice milling unit (RMU) di Lebak.
Kehadiran RMU tersebut akan memudahkan pengolahan gabah kering panen menjadi beras tanpa harus dikirim ke daerah lain.
“Lebak ini daerah penghasil. Insyaallah sebentar lagi kita akan punya rice milling unit sendiri sehingga nilai tambah dari padi bisa dikelola di sini,” tegasnya.
Lebak saat ini memiliki 52.025 hektare sawah produktif. Hasil panen raya di Tambak Baya bahkan mencatat kenaikan produksi dari rata-rata 6 ton per hektare menjadi 7,1 ton per hektare berkat pemanfaatan pupuk hayati cair.
BACA JUGA:Pasha Mundur dari DPR? Pasha Tegas: Itu Tidak Benar dan Kurang Kesatria
BACA JUGA:Polytron Perkenalkan Motor Listrik Fox 200, Desain Ringkas dengan Harga Lebih Ramah
Capaian ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang hanya 5,6 ton per hektare.
Supaya para petani tidak mengalami hambatan dalam memasarkan hasil panennya, Pemkab Lebak berencana mengaktifkan kembali BUMD Lebak Niaga sebagai pihak yang membeli sekaligus mengelola gabah.
Sementara itu, Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) mencatat jumlah warga miskin di Kabupaten Lebak mencapai 111 ribu jiwa.
Dari total tersebut, sekitar 18 ribu jiwa masuk dalam kategori miskin ekstrem. Hasbi menargetkan penurunan angka tersebut dengan melaksanakan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2022 tentang Penghapusan Kemiskinan Ekstrem yang didukung pula oleh program bantuan pangan bergizi gratis dari pemerintah pusat.
“Kalau kita bisa merawat telepon genggam yang jatuh, seharusnya kita juga bisa punya kepedulian yang sama terhadap daerah kita. Dengan rasa memiliki, insyaallah Lebak akan semakin maju dan sejahtera,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
