Mengalah Bukan Jaminan Hubungan Harmonis, Ini Kata Pakar Psikologi
Hubungan-Parentalk-
Menyampaikan ketidaksetujuan dengan cara yang baik adalah bagian dari proses pendewasaan hubungan itu sendiri.
Jika salah satu pihak tidak pernah menyuarakan isi kepalanya, maka pasangan tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya perlu diperbaiki.
Dampak buruk lain dari kebiasaan ngalah terus ini adalah hilangnya identitas diri dalam hubungan tersebut.
Seseorang yang selalu mengikuti kemauan pasangannya lama-kelamaan akan merasa kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
Kondisi ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan membuat individu tersebut merasa tidak berharga di mata pasangannya.
Lebih jauh lagi, dinamika ini bisa menciptakan ketimpangan kekuasaan yang tidak sehat di dalam komitmen asmara.
Pihak yang terbiasa dituruti kemauannya akan menganggap bahwa perilaku mereka selalu benar dan tidak perlu diubah.
Sementara itu, pihak yang selalu mengalah akan merasa terjebak dalam posisi sebagai korban yang tidak memiliki suara.
Untuk mengatasi hal ini, para pakar menyarankan agar setiap pasangan mulai belajar membangun ruang diskusi yang aman dan nyaman.
Setiap orang harus merasa bebas untuk mengekspresikan pendapat, keinginan, maupun kekecewaan tanpa takut akan dihakimi atau ditinggalkan.
Kompromi yang sejati adalah ketika kedua belah pihak sama-sama mendengarkan dan mencari jalan tengah bersama.
Hubungan yang kuat dan bertahan lama tidak diukur dari seberapa jarang mereka bertengkar, melainkan dari bagaimana mereka menyelesaikan perbedaan tersebut.
Mengalah sesekali untuk hal-hal kecil memang diperlukan demi kebaikan bersama. Namun, jika mengalah sudah menjadi satu-satunya cara untuk mempertahankan hubungan, maka sudah saatnya untuk mengevaluasi kembali kesehatan hubungan tersebut.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: