Saya Tidak Lulus SMA (Seri 1)
Kisah inspiratif Azrul Ananda yang tidak punya ijazah SMA tapi bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri-Disway.id-
Waktu itu, ada 80 anak Indonesia yang berangkat ke Amerika. Satu pesawat naik Garuda dari Jakarta ke Los Angeles. Transit di Denpasar, Biak, dan Honolulu.
Belum ada layar TV di kursi pesawat. Jadi rombongan kami kumpul di belakang bikin keramaian sendiri. Ada yang main gitar, dan main-main sesukanya.
Waktu itu saya sadar, kalau saya termasuk paling cupu. Saya yang termuda kedua. Hanya ada satu yang lebih muda, dari Medan.
Kebanyakan memang sudah SMA waktu ikut seleksi. Hanya saya dan anak Medan itu yang lulus SMP langsung berangkat.
BACA JUGA:Kuliah Tak Harus Mahal, Beasiswa Buka Peluang bagi Pelajar Indonesia
Sampai di Amerika, kami melanjutkan ke sebuah kota kecil di dekat Seattle, negara bagian Washington. Di sebuah kampus kecil, kami harus menjalani masa orientasi bersama siswa pertukaran dari negara Asia lain. Khususnya Jepang dan Taiwan (waktu itu Tiongkok belum "negara apa-apa").
Selama tiga pekan itu, kami dibekali dengan cara-cara menjalani kehidupan di SMA Amerika. Bagaimana berbicara dengan orang, bagaimana melakukan small talk, bagaimana berperilaku saat kegiatan-kegiatan bersama orang Amerika.
Termasuk cara makan (posisi piring, sendok, dan garpu), etika membukakan pintu untuk orang lain, termasuk juga kalau kencan (bayar sendiri-sendiri). Ada pula program-program olahraga.
Waktu itu belum ada internet umum teman-teman. Jadi semua diajarkan secara mendetail oleh para guru-guru di camp tersebut.
Pelajaran utama menurut saya: Jangan pernah malu. Karena orang Amerika lebih terus terang dan to the point. Kalau mau sesuatu, sampaikan saja. Mereka tidak akan tersinggung.
Selama tiga pekan kami "digembleng". Selalu diingatkan pula kemungkinan terburuk. Bahwa mungkin akan ada yang tidak kerasan karena berbagai alasan. Setiap tahun, pasti ada yang dipulangkan.
Baru di hari terakhir. Kami semua mendapatkan amplop. Isinya informasi kami akan dikirim ke mana. Semua akan disebar ke berbagai penjuru Amerika. Rata-rata ke kota-kota kecil di negara-negara bagian yang "tidak umum".
BACA JUGA:Kuliah di Universitas Negeri Bakal Gratis? Mendiktisaintek Ungkap Pemerintah Sedang Kaji Skemanya
Di ruangan pertemuan itu ada peta besar Amerika di dinding. Kami disuruh mencari kota kami letaknya di mana. Saking kecilnya beberapa kota kami, kota-kota itu tidak masuk di peta!
Ada teman saya anak Jakarta yang harus tinggal di sebuah peternakan. Saking terpencilnya, tetangga terdekatnya berjarak dua mil (lebih dari 3 km).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: