Hindari Fanatisme dan Etnosentrisme, Bangun Persaudaraan Umat Manusia
Potret Ahmad Sihabudin--
Oleh Ahmad Sihabudin
Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP Untirta.
Masih dalam semangat memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 20 Mei, sebuah momen bersejarah yang menandai lahirnya kesadaran kolektif sebagai bangsa yang ingin merdeka, bersatu, dan maju. Persatuan Indonesia menjadi landasan filosofi falsafah bangsa sejak kita mendeklarasikan sebagai bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ancaman terhadap persatuan akan terus ada dan biasanya lebih banyak dari dalam, dari sesama anak bangsa, karena berbeda orientasi pilihan politik, partai, paham, aliran, kelas sosial dan lain-lain. Padahal itu hanya sebagai ”pembungkus” sementara, seiring perjalanan waktu dan dinamika sosial yang terjadi biasanya bungkus itu berubah, berganti, bahkan bisa jadi bertukar bungkus.
Contoh kongkritnya tokoh bangsa kita, relasi Prabowo dengan Jokowi dan para ”pengikutnya”, walaupun sudah mulai sering diganggu, oleh kelompok yang tidak suka melihat keharmonisan hubungan tersebut. Contoh lainya hubungan Jokowi dengan partai yang pernah mendukungnya, yang saat ini tidak harmonis malah dianggap ”penghianat”.
Artinya perbedaan pembungkus tadi harusnya kita menganggap satu anugrah dapat hidup negara yang sangat menghargai perbedaan-perbedaan tersebut. Jangan dijadikan alat untuk mengoyak persatuan ini, karena pada hakekatnya, hampir setiap agama mengajarkan pentingnya persaudaraan dan persatuan.
Umat manusia, menurut Islam, adalah satu keluarga besar yang diciptakan Tuhan dari satu diri; dari satu diri itu Ia menciptakan pasangan baginya, dan dari keduanya ia menyebarkan banyak sekali lelaki dan wanita di muka bumi, keaneka ragaman bahasa dan warna kulit hanyalah manifestasi dari kekuasaan Allah, dan tidak menyiratkan pengertian pilihan atau hak istimewa. Dalam pemikiran Islam, hak istimewa bertentangan dengan perintah-perintah Tuhan tentang cinta kasih dan persaudaraan.
Membangun silaturrahim dan persaudaraan (dalam arti agama, ras, kepercayaan, sosio-cultural), dengan landasan persamaan dan persaudaraan saat ini sangatlah penting. Karena kita tidak dapat berdiri sendiri, dalam kehidupan yang sangat komplek, serba cepat berubah ini. Hubungan dan kerjasama untuk menjaga bumi Allah dari kehancuran, dan menghindari fanatisme dan etnosentrisme, mengagungkan kelompok, pandangannya yang berlebihan. Sesuai dengan watak dakwah universalnya, Islam tidak mengenal fanatisme dan etnosentrisme, dua hal penyebab utama perpecahan manusia.
Mengekspresikan pandangan, seolah yang diyakini secara berlebihan, dengan gaya provokasi, mudah melontarkan “memBid’ah-kan”, mengkafirkan kelompok lain diluar kelompoknya. Saat ini yang membuat ”berisik” jagat ini, adalah memaksakan dengan ekspresi merendahkan harkat martabat marwah manusia, ”pembunuhan karakter”, menghina dina, menghasut, menyebarkan kabar bohong, memfitnah saat ini begitu dianggap hal biasa dan ”ringan” sebut saja yang sedang viral saat ini, ”mengolok-olok” Ijazah palsu Presiden ke-7, atas nama kebebasan berekspresi, dan berpendapat.
Menurut seorang ulama dari Jawa Timur yang juga mantan Rais Aam PB Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Shiddiq, suatu ketika pernah menyitir konsep ukhuwah (persaudaraan). Menurutnya, ada tiga macam ukhuwah, yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan umat manusia).
Ukhuwah basyariyah bisa juga disebut ukhuwah insaniyah. Pada konsep ukhuwah Islamiyah, seseorang merasa saling bersaudara satu sama lain karena sama-sama memeluk agama Islam, di belahan dunia mana pun.
Dalam konsep ukhuwah wathaniyah, seseorang merasa saling bersaudara satu sama lain karena merupakan bagian dari bangsa yang satu, misalnya bangsa Indonesia. Ukhuwah model ini tidak dibatasi oleh sekat-sekat primordial seperti agama, suku, jenis kelamin, dan sebagainya. Untuk Indonesia konsep persauadaraan ini yang harus selalu dijunjung tinggi oleh semua anak bangsa mengingat, bangsa kita ”super majemuk” baik Agama, aliran kepercayaan, bahasa, suku bangsa, ras dan lai-lain.
Adapun, dalam konsep ukhuwah basyariyah, seseorang merasa saling bersaudara satu sama lain karena merupakan bagian dari umat manusia yang satu yang menyebar di berbagai penjuru dunia. Dalam konteks ini, semua umat manusia sama-sama merupakan makhluk ciptaan Tuhan.
Firman Allah tentang persamaan dan persaudaraan dalam Surat 43 ayat 32:“Kamilah yang membagi-bagikan diantara mereka penghidupan mereka dengan kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat..”
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
