Disway Award

Kecantikan: Antara Standar Sosial dan Penerimaan Diri

Kecantikan: Antara Standar Sosial dan Penerimaan Diri

standar kecantikan perempuan indonesia --

INFORADAR.ID - Kecantikan kerap direduksi menjadi persoalan tampilan fisik: kulit cerah, wajah simetris, dan tubuh proporsional. Standar ini terus direproduksi secara masif melalui media sosial, iklan, dan industri kecantikan global yang nilainya mencapai ratusan miliar dolar.

Tanpa disadari, definisi kecantikan yang sempit tersebut menciptakan tekanan sosial yang sistematis, terutama bagi perempuan, untuk terus menyesuaikan diri dengan ekspektasi publik, alih-alih mendengarkan kebutuhan dan kenyamanan dirinya sendiri.

Berbagai studi psikologi sosial menunjukkan bahwa paparan standar kecantikan ideal di media berkontribusi terhadap menurunnya kepercayaan diri, meningkatnya kecemasan tubuh, bahkan gangguan kesehatan mental, khususnya pada remaja dan perempuan muda.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa kecantikan bukan lagi sekadar pilihan personal, melainkan telah menjadi mekanisme sosial yang mengatur cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Di balik maraknya produk dan tren perawatan, kecantikan sejatinya memiliki makna yang jauh lebih luas. Ia bukan hanya soal bagaimana seseorang terlihat, tetapi juga bagaimana seseorang merawat dirinya—baik secara fisik maupun mental. Kesehatan kulit, kebersihan diri, pola hidup seimbang, serta kesehatan psikologis merupakan fondasi kecantikan yang sering kali terpinggirkan oleh narasi instan dan visual semata.

Industri kecantikan memang memiliki peran ambivalen. Di satu sisi, ia membuka akses terhadap perawatan diri, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pemberdayaan ekonomi, termasuk bagi perempuan.

Namun di sisi lain, industri ini kerap melanggengkan standar ideal yang homogen dan sulit dicapai, sering kali tidak selaras dengan keberagaman warna kulit, bentuk tubuh, usia, dan latar budaya. Ketika kecantikan dikomodifikasi secara berlebihan, tubuh manusia berisiko direduksi menjadi objek pasar, bukan subjek yang bermartabat.

Kecantikan yang sehat seharusnya berangkat dari penerimaan diri. Menerima keunikan wajah, warna kulit, dan karakter personal bukan berarti menolak perawatan, melainkan menempatkan perawatan sebagai bentuk kasih sayang pada diri sendiri, bukan kewajiban sosial.

Dalam perspektif ini, kecantikan tidak lagi menjadi alat pembanding yang melemahkan, tetapi sarana memperkuat identitas dan rasa percaya diri. Pada akhirnya, kecantikan bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah proses yang terus berkembang. Ia tumbuh dari kesadaran, pilihan yang bijak, serta sikap menghargai diri dan orang lain.

Ketika kecantikan dipahami secara utuh dan manusiawi, ia tidak lagi menekan atau menghakimi, melainkan membebaskan—menjadi ruang ekspresi yang inklusif di tengah masyarakat yang semakin beragam.

 

Fikri Habib Hassar Maldya Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mathla’ul Anwar

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait