Dian Sastrowardoyo Hadapi Warisan Keluarga dan Pilihan Hidup dalam Film Yang Datang dan Yang Pergi

Minggu 08-11-2026,21:17 WIB
Reporter : Lydia Khaerani
Editor : Haidaroh

INFORADAR.ID - Perjuangan seorang perempuan dalam menentukan masa depan di tengah bayang-bayang masa lalu menjadi salah satu cerita yang diangkat dalam film terbaru berjudul Yang Datang dan Yang Pergi.

Film yang dibintangi Dian Sastrowardoyo ini tidak hanya menyuguhkan drama percintaan, tetapi juga mengangkat persoalan keluarga, identitas, dan kebebasan menentukan pilihan hidup.

Dalam film garapan Nurman Hakim dan Nan T. Achnas tersebut, Dian memerankan karakter Sinta, seorang perempuan yang harus berhadapan dengan berbagai persoalan dalam kehidupannya.

Ia digambarkan sebagai sosok yang berusaha mengambil kendali atas masa depannya sendiri di tengah berbagai tuntutan dan warisan keluarga.

Cerita berpusat pada sebuah guest house tua milik keluarga Sinta yang menyimpan banyak kenangan dan rahasia. Tempat tersebut menjadi saksi berbagai pertemuan dan perpisahan orang-orang yang datang silih berganti.

BACA JUGA:Film Bapak Paling Jujur Bukan Komedi Biasa Anies Baswedan Soroti Adegan Pemilu

BACA JUGA:Totalitas Demi visual Mekkah pada tahun 1920- an Tim produksi Film Hamka Vol 3 Boyong kru Syuting Kemessir

Kehidupan Sinta semakin kompleks ketika ia kembali dipertemukan dengan Banawan, teman masa kecil sekaligus laki-laki yang pernah dicintainya. Karakter tersebut diperankan oleh Roy Sungkono.

Selain Banawan, terdapat pula sejumlah laki-laki lain yang hadir dalam kehidupan Sinta. Mereka membawa berbagai dinamika hubungan, mulai dari harapan dan cinta hingga pengkhianatan yang kemudian memengaruhi kehidupan pribadi serta keluarganya.

Menariknya, cerita film ini tidak hanya bergerak dalam satu periode waktu. Alur kisahnya menghubungkan tiga latar waktu berbeda, yakni 1965, 1999, dan 2026. Ketiga periode tersebut memperlihatkan bagaimana sejarah keluarga dan berbagai peristiwa masa lalu turut membentuk kehidupan generasi berikutnya.

Sutradara sekaligus penulis film, Nurman Hakim, menjelaskan bahwa cerita tersebut berangkat dari pemikiran mengenai kehidupan manusia, tempat, serta orang-orang yang datang dan pergi.

"Ketika saya ke Jogja, kemudian saya semacam ada satu refleksi tentang kehidupan ini, orang yang datang dan pergi. Kalau kita bicara tentang orang yang datang dan pergi, itu kan kita bicara tentang tempat," ujar Nurman.

BACA JUGA:Bukan Kehilangan Kasih Sayang, Film

BACA JUGA:Ingin Hidup Mewah, Cicilan Justru Jadi Bumerang bagi Keluarga dalam Film Menang Untuk Kalah

Sementara itu, Dian Sastrowardoyo mengaku tertarik dengan karakter Sinta karena keberaniannya menentukan jalan hidup sendiri. Menurut Dian, karakter tersebut memiliki semangat untuk keluar dari batasan yang selama ini ditentukan orang lain.

Kategori :