INFORADAR.ID — Potensi gempa besar dari zona Megathrust Selat Sunda kembali menjadi perhatian. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa skenario gempa di wilayah tersebut dapat mencapai magnitudo 8,9 dan berpotensi menimbulkan tsunami.
Dampak dari skenario tersebut tidak hanya berpotensi dirasakan oleh wilayah yang berada di sekitar Selat Sunda. Sejumlah daerah di Banten hingga Jakarta juga masuk dalam wilayah yang perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap risiko gempa maupun tsunami.
Di Banten, wilayah yang disebut berpotensi terdampak antara lain Pandeglang, Lebak, Serang, dan Cilegon. Sementara itu, wilayah pesisir utara Jakarta juga berpotensi merasakan dampak apabila terjadi gempa besar yang memicu tsunami di Selat Sunda.
Berdasarkan kajian yang dikutip dalam pemberitaan tersebut, tsunami dari Selat Sunda dalam skenario tertentu diperkirakan dapat mencapai pesisir utara Jakarta dalam waktu sekitar 2,5 jam. Perkiraan waktu tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya masyarakat memahami jalur evakuasi dan langkah penyelamatan sejak dini.
Namun, masyarakat perlu memahami bahwa angka magnitudo 8,9 tersebut merupakan skenario potensi, bukan ramalan bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat. BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap informasi mengenai megathrust sebagai tanda bahwa bencana akan segera terjadi.
Kesiapsiagaan menjadi langkah yang lebih penting dibandingkan kepanikan. Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir, khususnya Banten dan Jakarta, dapat mulai mengetahui lokasi evakuasi, memahami informasi peringatan dini tsunami, serta memastikan keluarga mengetahui apa yang harus dilakukan ketika gempa kuat terjadi.
Peringatan mengenai megathrust ini juga muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap aktivitas kebencanaan di kawasan Selat Sunda. Pada awal September 2026, BMKG melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda. Hasil pemantauan multi-sensor InaTEWS pada 6 September 2026 tidak menunjukkan adanya anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami akibat rangkaian erupsi saat itu.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap tenang tetapi tidak mengabaikan potensi bencana. Informasi mengenai gempa dan tsunami sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi BMKG dan instansi kebencanaan agar tidak terpengaruh oleh kabar yang belum terverifikasi.
Dengan memahami risiko sejak sekarang, masyarakat Banten hingga Jakarta diharapkan dapat lebih siap menghadapi kemungkinan bencana tanpa harus diliputi rasa takut. Kesiapan sederhana seperti mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul dapat menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko ketika bencana benar-benar terjadi.
Mahasiswa Magang Unsera Ayu Zalva Ayyaasyi