INFORADAR.ID – Maraknya paparan berita buruk mengenai bencana, konflik, hingga peristiwa tragis di media massa maupun media sosial dapat memicu kecemasan dan tekanan mental bagi sebagian orang. Berdasarkan laporan dari detikHealth, mengonsumsi informasi negatif secara berlebihan berisiko membuat tubuh dan pikiran terus berada dalam kondisi waspada (fight or flight) yang memicu respons stres.
Psikolog Meity Arianty menegaskan bahwa memiliki rasa empati bukan berarti harus membiarkan diri secara terus-menerus terpapar penderitaan. Mengikuti perkembangan informasi memang penting, namun masyarakat diimbau untuk menetapkan batas sehat agar kesehatan jiwa tetap terjaga.
Guna mencegah kecemasan berlebih, Meity menyarankan publik untuk hanya memilih sumber berita yang kredibel serta menentukan jadwal khusus dalam membaca kabar harian. Waktu membaca ideal disarankan pada pagi, siang, atau sore hari, serta sangat dianjurkan untuk menghindari membaca berita buruk menjelang waktu tidur malam.
Selain mengatur jadwal, langkah penting lainnya adalah mematikan notifikasi yang tidak perlu dan membatasi menonton tayangan visual berulang yang dapat mengganggu ketenangan emosional. Jika rasa cemas mulai mendominasi, masyarakat disarankan untuk rehat sejenak dari media (digital detox) guna memulihkan kestabilan mental sebelum kembali beraktivitas.
Fenomena kecemasan akibat paparan kabar buruk (headline stress disorder) merupakan dampak nyata dari arus informasi digital yang tidak terbatas. Konsumsi konten tragedi secara terus-menerus tanpa adanya jeda pemulihan dapat menurunkan ambang toleransi stres seseorang, yang pada akhirnya memicu kelelahan emosional hingga kelumpuhan empati (compassion fatigue).
Edukasi mengenai literasi media dan pengelolaan konsumsi informasi menjadi krusial untuk melindungi ketahanan psikologis masyarakat di tengah situasi krisis. Menjaga batas emosional yang sehat dan memprioritaskan ketenangan pikiran tidak hanya penting untuk diri sendiri, tetapi juga memungkinkan seseorang hadir secara lebih efektif dan rasional dalam memberikan bantuan nyata bagi sesama.
Langkah menjaga keseimbangan mental ini hendaknya diimbangi pula dengan mempraktikkan teknik relaksasi sederhana serta mengalihkan fokus pada aktivitas produktif di kehidupan nyata. Dengan secara bijak membatasi asupan berita negatif dan menjaga kondisi psikologis tetap stabil, seseorang dapat berpikir lebih jernih serta terhindar dari risiko gangguan kecemasan yang berpanjangan.