Tips Belajar SKS Lebih Efektif, Jangan Cuma Baca Catatan Semalaman

Rabu 13-05-2026,16:28 WIB
Reporter : Lydia Khaerani
Editor : Haidaroh

INFORADAR.ID - Budaya Sistem Kebut Semalam (SKS) masih menjadi kebiasaan banyak pelajar dan mahasiswa di Indonesia menjelang ujian. Namun, metode belajar dengan hanya membaca ulang catatan ternyata dinilai kurang efektif untuk membantu otak menyimpan informasi dalam jangka panjang.

Konten edukasi yang dibagikan kreator sekaligus pengusaha muda, William Tanuwijaya, membahas bagaimana teknik SKS sebenarnya masih bisa dilakukan secara efektif jika menggunakan metode belajar yang tepat. Ia menilai masalah utama bukan terletak pada belajar dadakan, melainkan teknik belajar yang digunakan.

“Permasalahan SKS itu bukan masalah dia belajarnya dadakan, tapi masalahnya dia belajarnya dadakan menggunakan teknik yang salah,” jelas William dalam videonya.

Menurutnya, banyak pelajar masih mengandalkan metode rereading atau membaca ulang catatan berkali-kali. Padahal, berdasarkan sejumlah penelitian pendidikan, teknik tersebut termasuk metode belajar paling lemah karena informasi tidak benar-benar diproses oleh otak.

William mengutip penelitian John Dunlosky dari Kent State University yang membandingkan berbagai metode belajar. Dalam penelitian tersebut, membaca ulang dinilai menjadi teknik paling tidak efektif, terutama jika dilakukan semalaman sebelum ujian.

BACA JUGA:Pekan Literasi Untirta 2026: Mengupas Strategi Monetisasi Platform Digital

BACA JUGA:Lawan Gadget, Mobil Perpustakaan Keliling UIN Banten Gencarkan Sosialisasi Literasi ke Sekolah-Sekolah

Sebagai alternatif, William menyarankan metode active recall atau mengingat kembali materi tanpa melihat catatan. Teknik ini dilakukan dengan membaca materi satu kali, lalu mencoba menuliskan kembali apa yang diingat menggunakan kertas kosong.

“Jadi kita memastikan otak kita tuh bukan nyalin atau membaca doang, tapi kita memproses informasinya lewat dulu di otaknya baru pindah ke tulisan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya memahami konsep dibanding sekadar menghafal kalimat. Salah satu cara yang disarankan yakni menggunakan metode Feynman Technique, yaitu menjelaskan kembali materi dengan bahasa sederhana seolah sedang mengajarkannya kepada orang lain.

William menyebut metode tersebut kini bisa dipraktikkan menggunakan kecerdasan buatan atau AI sebagai teman diskusi belajar. Dengan cara itu, pelajar dapat mengetahui bagian materi mana yang belum benar-benar dipahami.

Selain teknik belajar, tidur juga disebut menjadi faktor penting dalam efektivitas SKS. Banyak pelajar memilih begadang penuh saat belajar, padahal kurang tidur justru membuat daya serap otak menurun drastis.

BACA JUGA:Sambut Keluarga Baru, Gen RB Batch 3 Gelar

BACA JUGA:Mahasiswa KPI UIN Banten Perdalam Literasi Perfilman di Sinematek dan Lembaga Sensor Film

“Tidur itu adalah kayak semacam save button-nya kalau kita lagi main game,” kata William. Ia menjelaskan bahwa saat tidur, otak memindahkan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang sehingga materi lebih mudah diingat.

Kategori :