Di kolom komentar, orang berlomba-lomba untuk terlihat paling tahu demi mendapatkan validasi berupa likes atau pengikut.
Keinginan untuk diakui sebagai sosok yang cerdas dan kritis sering kali mengalahkan kerendahan hati intelektual (intellectual humility), yakni kesadaran bahwa pengetahuan manusia memiliki batas.
Pada akhirnya, fenomena ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa memiliki akses ke informasi tidak sama dengan memiliki pengetahuan, apalagi kebijaksanaan.
Para pakar komunikasi menyarankan pentingnya literasi digital yang lebih dalam dan kemauan untuk kembali bertanya daripada sekadar menggurui.
Di tengah banjir informasi, kemampuan untuk mengakui "saya tidak tahu" mungkin menjadi tanda kecerdasan yang sesungguhnya di zaman sekarang.